Penyesalan Seorang Ustadz

Fathnan

September 8, 2025

6
Min Read
penyesalan seorang ustadz

Cerpenin.com – ( Cerita tentang runtuhnya kesalehan karena hati yang tak terjaga.)

“Ini parfum siapa?” tanya Aisyah lirih.

“Apa-apaan kamu ini? Jangan suudzon!” hardik ustadz Karim sambil melempar baju ke lantai.

“Aku cuma khawatir. Aku takut, engkau tergelincir…”

“Tergelincir? Hei! Kamu tahu siapa aku? Aku ini ustadz besar! Semua orang tunduk mendengar ceramahku! Bahkan pejabat pun minta nasihat dariku!” Hardik Ustadz Haji Karim bin Musa, seorang ustadz yang awalnya sangat menjaga sikapnya, tapi entah kenapa beberapa minggu belakangan ini, sang Ustadz seringkali bersikap sedikit kasar dan sering melontarkan kata-kata pedas kepada sang istri yang biasanya sangat dia hargai karena kesholehahan nya.

Desa Banjarsari, sebuah desa yang damai dan tentram, dengan udara yang sejuk dan pemandangan yang indah, adalah tempat di mana sang Ustadz dan istrinya berasal.

“Ustadz Karim” begitu orang-orang memanggilnya. Dia adalah seorang Ustadz yang sangat bersahaja. Ceramah-ceramahnya mampu mengundang banyak jamaah yang datang, bahkan banyak pejabat yang meminta nasihat dan wejangan dari beliau.

“Jangan kalian berani melawan perintah Allah! Neraka itu nyata, dan kalian tidak akan kuat menanggung siksanya!” serunya dalam khutbah Jumat, membuat beberapa jamaah menunduk gemetar.

Di rumahnya, sang istri, Bu Aisyah, adalah seorang wanita yang sangat sederhana, dia selalu menyambut kepulangan Sang Ustadz dengan air hangat dan senyuman. Tapi semakin hari, perhatian itu semakin tak lagi dihargai.

“Aku capek, Aisyah. Jangan banyak tanya. Urusan rumah, urus saja sendiri. Aku bukan lelaki biasa. Aku panutan umat!” bentaknya suatu malam, ketika sang istri hanya menanyakan kenapa ia pulang tengah malam.

Bu Aisyah hanya diam, menunduk, menahan air mata.

Nama Ustadz Karim makin besar. Setiap bulan, ia mendapat undangan dari luar kota: Jakarta, Surabaya, bahkan sampai ke negeri jiran. Ia mulai terbiasa menginap di hotel-hotel berbintang, makan di restoran mahal, dan diperlakukan bak tamu kehormatan.

Di satu acara pengajian di kota Malang, panitia memperkenalkannya pada seorang perempuan muda bernama Rani, seorang penyanyi dangdut yang sedang “berhijrah”. Awalnya, Ustadz Karim menasehatinya dengan sabar. Tapi malam itu, usai acara, ia mengantar Rani pulang. Mereka ngobrol di mobil.

“Ustadz baik sekali,” kata Rani, matanya menyiratkan kagum. “Andai semua laki-laki seperti ustadz…”
Ustadz Karim tersenyum, merasa seperti pahlawan rohani dan kesombongan nya mulai tumbuh. “Saya hanya menjalankan perintah Allah…” Jawab Ustadz Karim yang ingin semakin dipuji.

Sejak malam itu, pertemuan mereka berulang. Diam-diam dan Tanpa sepengetahuan siapapun.
Suatu malam, ketika Ustadz Karim pulang ke rumah, Bu Aisyah mencium aroma parfum wanita di baju suaminya. Bukan aroma sabun hotel atau bau jalan, tapi aroma yang asing—manis, menyengat.

Namun, sebaik-baiknya manusia menutup keburukan, bila Allah berkehendak membukanya, tak ada yang bisa menghalangi.

Di sebuah hotel di Semarang, Ustadz Karim dan Rani kembali bertemu. Mereka makan malam, tertawa, bahkan sempat berpegangan tangan di lobi. Tanpa mereka sadari, seorang jamaah dari desa Karangjati, Mas Darto, sedang mengikuti seminar di hotel itu. Ia mengenali Ustadz Karim.

Wajah Mas Darto pucat melihat idolanya duduk dengan seorang wanita muda bukan muhrim, di malam hari, tertawa dan bermesraan.

Mas Darto pun merasa geram dan dia mengabadikan nya lewat video di ponselnya dan dia juga menyebarkannya melalui medsos nya.

Baca Juga: Pelangi di Atas Laut Taubatku

Tak lama, video itu tersebar. Di grup WhatsApp masjid, grup RT, bahkan grup ibu-ibu pengajian. Bahkan viral di beberapa platform media sosial. Sekarang semua orang sudah mengetahui aib Ustadz Karim dan mereka mulai menjauhinya.

Masjid yang biasa dipenuhi jamaah, kini kosong saat ceramah Ustadz Karim. Undangan dari luar pun tak ada lagi yang datang. Spanduk dengan wajahnya pun diam-diam diturunkan. Murid-muridnya menghindar. Bahkan, anak-anak kecil menatapnya dengan rasa asing.
Di rumah, Bu Aisyah mengemas pakaiannya.

“Aku pulang ke rumah ayah dulu. Aku butuh menenangkan diri…” katanya.

Ustadz Karim hanya bisa diam. Untuk pertama kalinya, ia tak bisa bicara.

Hari-harinya menjadi sepi. Tak ada lagi ceramah, tak ada lagi suara istri nya. Ustadz Karim menghabiskan waktunya di sajadah. Tapi pikirannya masih gelisah. Ia menyalahkan semua orang, Mas Darto yang menyebarkan aibnya, warga yang tak mau memaafkannya, dan istrinya yang kini meninggalkannya.

Hingga suatu malam, ia bermimpi.

Ia berdiri di sebuah tempat yang luas dan seolah tak berujung dan dia dikelilingi tumpukan amal: ceramah, dakwah, pembangunan masjid. Tapi semua hancur terbakar api. Lalu datang seekor ular besar, mengikat kakinya, menyeretnya ke dalam jurang.

“Ini balasan bagi orang yang merasa lebih baik dari yang lain… yang memakai agama untuk meninggikan dirinya sendiri…” suara itu menggema entah darimana datangnya.

Ustadz Karim terbangun dengan nafas terengah. Ia menangis di atas sajadah. Sujudnya lama, sangat lama sekali, dia sujud sambil menangis hingga matanya bengkak.

Beberapa minggu kemudian, ia jatuh sakit. Tubuhnya melemah, wajahnya pucat. Ia hanya dirawat di rumah, seorang diri. Tak ada tetangga yang datang menjenguk. Sampai suatu hari, Bu Aisyah datang setelah mendengar kabar bahwa Ustadz Karim jatuh sakit.

Ia duduk di samping suaminya, menggenggam tangan kurus itu.

“Aku minta maaf, Aisyah,” lirih Ustadz Karim. “Aku… terlena. Aku lupa… bahwa hidayah bisa dicabut kapan saja…” ucapnya sambil menangis.

Air mata Bu Aisyah jatuh. Ia membalas dengan lembut, “Aku sudah memaafkan abi sejak lama… Tapi tolong, istighfar lah, jangan berhenti memohon ampun pada Alloh, karena Alloh lah yang Maha segalanya..” Jawab Bu Aisyah.

“Tolong bimbinglah aku Aisyah,.” pinta Ustadz Karim. Bu Aisyah membimbing nya mengucapkan kalimah-kalimah toyyibah dan akhirnya Ustadz Karim wafat dipangkuan Aisyah. Malam itu malam Jumat. Hujan gerimis turun mengiringi kepergiannya. Bu Aisyah yang tak kuasa menahan tangisnya memberitahu warga akan kepergian Ustadz Karim.

Hanya segelintir warga yang hadir untuk ikut mengurusi jenazah beliau karena mereka sudah menganggap Ustadz Karim adalah orang yang khianat dan seorang pezina. Saat pemakaman pun hanya beberapa orang saja yang ikut menguburkannya.

Tak ada sambutan megah, tak ada poster duka, tak ada spanduk pengajian akbar untuk mengenang beliau.

Namun, dalam diam dan doanya, Bu Aisyah berkata lirih,

“Ya Allah… Engkau tahu betapa ia pernah sombong, tapi Engkau juga tahu bahwa ia telah menyesalinya… Terimalah taubatnya, Ya Alloh yang Maha Rahman… Ampunilah suamiku…” ucapnya disertai tangisan.

Dan kini Bu Aisyahlah yang meneruskan perjuangannya dalam berdakwah.

“Kesombongan dalam amal adalah awal dari kehancuran. Jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain karena kita tidak tahu di mana akhir hidup kita. Hanya hati yang ikhlas dan rendah hatilah yang mampu menjaga iman tetap utuh sampai ajal datang.” ucapnya dalam ceramah saat pengajian ibu-ibu di salah satu masjid yang berada di desanya.

Dan orang-orang kini mulai lebih bijaksana dalam bersikap. Mereka tidak pernah mau lagi menghakimi orang lain karena mereka tahu, saat ajal menjemputlah penentuan akhir dari hidup seseorang. Apakah dia Husnul khotimah ( mati dalam keadaan baik ) atau su’ul khotimah (mati dalam keadaan buruk).

Tamat

Penulis: Juju Juwita
Editor: Fathnan

POST TERKAIT