Ombak bergulung-gulung menghantam karang. Angin laut berhembus dengan kencang. Karina berdiri di tepi pantai itu dengan airmata berlinang mengingat masa lalunya yang penuh dengan maksiat.
“Untung saja Alloh mengingatkanku melalui seorang psikopat yang menyeramkan. Jika tidak apa jadinya diriku bila aku meninggal dunia seperti Eva, mati dalam keadaan telanjang. Sungguh memalukan.”
Dulu, Karina dan Eva adalah 2 teman karib ditempat kerjanya. Mereka berprofesi sebagai seorang Pemandu Lagu di tempat karaoke ternama di beberapa kota. Bandung, Surabaya, Jakarta sampai luar pulau Jawa. Mereka selalu bekerja ditempat kerja yang sama.
Mereka sangat mahir dalam memerankan profesi mereka. Banyak sekali pelanggan yang datang dan membayar jasa mereka. Namun, justru karena hal itu, banyak sekali orang yang iri pada mereka. Hingga suatu saat bencana mulai datang.
Karina yang sering tidur dan bergonta ganti pasangan, diteror oleh seseorang melalui telepon genggam nya.
“Aku tau kamu sering tidur dengan lelaki lain. Dan aku cemburu melihatmu sayang. Dan aku tidak terima kau berbuat seperti itu. Jika kau masih suka melakukan hal itu, aku tidak akan segan-segan untuk mengupload kemesraan kita di medsos.”
Karina tertegun. Dia kaget. Tapi dia mengabaikannya. “Paling hanya orang iseng.” pikirnya.
Malamnya seperti biasa, setelah berkaraoke ria dengan tamu nya, Karina dijemput kekasihnya. Eva yang pulang sendiri ke kost nya merasa iri, “Ia selalu pulang dengan laki-laki yang lain. Dan aku selalu pulang sendiri karena aku tidak mau bila nantinya banyak orang yang mengetahui tempat kost ku.” Gumam Eva.
Karina dan Eva tinggal di kosan yang sama. Mereka selalu pergi kerja bersama-sama. Tapi saat pulang, Eva selalu pulang sendiri karena ia sedikit tertutup pada orang yang baru dikenalnya. Berbeda dengan Karina yang terlalu terbuka, bahkan pada setiap orang yang dikenali nya.
Diam-diam Eva merasa risih dengan tingkah laku Karina. “Dia terlalu terbuka. Bahkan dia selalu membawa laki-laki ke dalam kosan nya.” geremang Eva dengan kesal di suatu siang saat dia terbangun dari tidurnya karena suara berisik yang berasal dari kamar Karina.
“Kau membawa laki-laki ke dalam kamar kost mu? Tidak apa-apa, tapi lihatlah video ini. Aku akan menyebarkannya..hahaha..” Wajah Karina pucat membaca dan melihat video itu. Betapa malunya ia bila video itu tersebar luas.
“Kamu kenapa?” Tanya Yadi kekasih Karina saat ini.
“Oh tidak apa-apa. Mungkin aku hanya lemas dan lapar.” Jawab Karina sekena nya.
“Kalau gitu, ayo kita cari makan, aku juga lapar.” Ajak Yadi.
“Tidak usah, sepertinya aku tidak enak badan, aku ingin istirahat, kamu pulang saja dulu.” Jawab Karina.
Yadi pulang dengan sedikit kesal karena merasa diusir oleh Karina.
“Bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan?” Darimana orang itu mendapatkan video ku. Karina mulai menduga-duga. Beberapa orang menjadi kandidat, ada di pikirannya.
Malam nya ia bekerja seperti biasa. Dan pulang kerja ia pergi bersama seorang tamu istimewanya malam itu. Mereka akan pergi bersenang-senang di salah satu hotel melati yang berjarak tidak jauh dari tempat kerjanya.
Eva yang merasa kesal karena pulang sendiri, serta seorang wanita memperhatikanya dari kejauhan. Wanita itu tersenyum penuh misteri dan mengikuti Eva sampai ke kosan nya.
Esoknya, kembali Karina mendapatkan chat ancaman serta video syur nya dengan seorang lelaki tua yang kaya raya. Karina yang mulai gelisah mendatangi Eva, dan dia menceritakan semuanya. Eva yang kaget temannya mendapatkan ancaman menyarankan Karina untuk pulang ke rumah orang tua nya di salah satu desa di Kabupaten Bandung Barat.
Karina menurutinya, ia pulang dengan tergesa-gesa. Dan mulai saat itu, ia menonaktifkan semua akun medsosnya. Ia juga mengganti no nya.
Baca Juga: Hamil Itu Anugerah
Aneh tapi nyata. Meskipun sudah mengganti no nya. Karina masih mendapatkan pesan yang berisi teror dan ancaman itu. Karina yang panik menduga bahwa Eva lah pelakunya, pasalnya dia hanya menghubungi Eva melalui no baru nya itu. Sedangkan Eva, ia pun mendapatkan ancaman yang sama.
Eva mencoba menghubungi Karina namun selalu gagal. Eva yang ketakutan, meminta teman kerjanya untuk menginap di kosan nya. Dan Karina ia mulai mendekatkan diri kepada Sang Kholik, ia mulai meneteskan air matanya untuk segala dosa yang ia perbuat selama ini.
Di tempat kerjanya Eva mulai merasa tidak nyaman, ia merasa selalu ada orang yang memperhatikannya. Namun ia mengabaikannya. Hingga suatu malam, saat ia sedang bermesraan dengan kekasih barunya di sebuah hotel, tiba-tiba dia dikejutkan oleh sebuah surat dengan tulisan yang berisi ancaman yang terselip di bawah pintu hotel. Dia menghubungi pihak hotel dan meminta rekaman cctv di depan kamarnya untuk mengetahui orang yang menyelipkan surat tersebut. Namun hasilnya nihil.
Seminggu dari kejadian itu, Eva ditemukan tewas bersimbah darah di kamar kost nya. Pembunuhnya belum diketahui sampai saat ini. Dan kabar itu diketahui Karina lewat akun medsos baru nya. Yang mengejutkan dari pembunuhan ini adalah sepucuk surat yang ditinggalkan pembunuh itu untuk seseorang. “Keluar dari persembunyian mu atau satu demi satu orang-orang terdekatmu akan aku bunuh.” Pesan itu viral di media sosial, dan ketika Karina mencoba mengaktifkan no lama nya untuk menghubungi keluarga Eva, ada pesan yang sama seperti isi surat yang terdapat di tempat pembunuhan Eva. Karina tahu pesan itu untuknya. Tapi Karina tidak mengetahui siapa pengirimnya.
“Ternyata orang yang sama, dia masih mengincarku. Aku harus bagaimana?” Gumam Karina dengan airmata berlinang. “Ya Alloh, aku harus bagaimana?” sambung Karina sambil terduduk lemas memeluk lututnya sendiri. Ia lalu berdiri dan berniat mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat taubat. Kali ini dia benar-benar menyesali perbuatannya, dia ingin bertaubat dengan sungguh-sungguh. “Yaa Alloh hamba bertaubat.. Ampunilah semua dosa-dosa hamba, dan tunjukkanlah jalan yang terbaik menurut pandanganMU kepada hamba. Aku takut. Aku menyesal.” Kata Karina dalam doanya.
Hari-hari berlalu, dan Karina semakin memperdalam keimanan dan ketaqwaannya kepada Sang Kholik. Setiap malam ia bangun untuk melaksanakan sholat taubat dan sholat tahajud serta diakhiri dengan sholat witir.
Di suatu pagi yang cerah, ibu Karina tiba-tiba mengatakan ingin menjual rumahnya dan pindah ke kampung halaman tempat neneknya Karina berasal. Kota Tasikmalaya. Disanalah neneknya Karina berasal. Karina langsung menyetujuinya, dan 3 bulan kemudian rumah itu laku, dan mereka pun pindah ke kota Tasikmalaya, tepatnya ke desa Cipatujah.
Setelah mereka pindah, Karina mendengar berita bahwa pembunuh Eva telah ditangkap. Betapa bahagianya Karina. Namun ada satu hal paling mengejutkan dari berita tersebut. Pelaku nya adalah teman mereka sendiri.
Dan ternyata pelaku nya adalah seorang wanita. “Aku sedang mencari seseorang, dia sembunyi, dan hanya Eva yang tau tempat persembunyiannya, tapi Eva tidak mau memberitahukan tempatnya padaku. Itu sebabnya aku menikmati tubuhnya dan membunuhnya.” Jawab wanita itu saat di interogasi di kantor polisi. Polisi yang menanyai nya pun hanya manggut-manggut dan menyarankan agar tersangka diperiksa kejiwaannya. Dan ternyata tersangka itu dinyatakan sebagai seorang psikopat oleh para ahli.
Hakim menjatuhi hukuman mati pada wanita itu. Karina merasa sangat lega dan juga sedih. Lega karena orang yang selalu meneror nya telah mati, dan sedih karena ternyata dia salah menilai Eva. Dan sekarang Karina sudah berani bepergian jauh seorang diri seperti dulu lagi, hanya saja sekarang dia sudah berubah, bukan hanya penampilannya saja, tapi hati nya sudah lebih baik daripada dulu.
Dia pergi ziarah ke makam Eva di kota Bandung. Air matanya meleleh membasahi pipi. “Maaf kan aku Eva.” hanya kalimat itu yang terucap dari bibirnya. Setelah selesai berdoa, dia pulang kembali ke rumahnya tanpa sedikitpun berniat untuk mampir menemui teman-temannya.
Dia sudah membulatkan hati nya untuk tidak berada di lingkungan itu lagi. Setelah pulang, setiap sore dia akan pergi jalan-jalan dipinggir pantai Cipatujah. Namun di sore itu, langit di atas laut terlihat ada yang berbeda. Seberkas cahaya warna warni menghiasinya. Cahaya warna warni itu melengkung seperti jembatan dari awan menuju laut.
Karina yang sedang bersedih karena teringat Eva dan menyalahkan dirinya sendiri langsung tersenyum melihat warna warni itu. “Itu Pelangi. Indah sekali.” Gumam nya. Bayangan wajah Eva yang sedang tersenyum seperti menyapanya diantara gumpalan awan dan pelangi.
Hati Karina menghangat. Ia mengerti bahwa tidak seharusnya ia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Eva, karena itu sudah takdir nya. “Aku akan selalu mendoakanmu Eva.” sambung Karina sambil tersenyum dan mengangkat kedua tangannya mendoakan sahabat karib nya.
Tamat.
Penulis: Juju Juwita
Editor: Fathnan









