Namaku Rinda, usia ku saat ini sudah hampir empat puluh lima tahun, body ku aduhai, meskipun aku sudah berumur tapi penampilan ku bak gadis remaja SMA yang lagi seger-segernya. Wajahku cantik, perpaduan mata bulat dengan bulu mata yang panjang dan lentik alami serta hidung mancung dan bibir merah delima yang mungil membuat aku tidak bosan dipandang.
Rambutku hitam panjang dan lebat, kulitku mulus berwarna kuning langsat. Tapi sayang seribu sayang, sampai saat ini aku masih belum ada yang punya, alias masih jomblo karena entah kutukan entah karma apa yang kudapat, karena seingatku tak pernah ada laki-laki dengan status bujangan mendekatiku. Rata-rata mereka yang mendekatiku pasti adalah laki-laki yang sudah beristri atau kalau tidak pasti laki-laki tua yang sudah bandotan bau tanah.
Ketika saya masih duduk dibangku SMA, banyak teman laki-laki yang melirik, tapi di antara mereka tidak ada satupun yang berani mendekati, hanya mengagumi dari kejauhan itu saja mungkin sudah cukup bagi mereka, tapi bagiku merupakan sesuatu yang aneh, kenapa tidak ada satupun yang berani mendekati aku, dan itu jadi pertanyaan terbesarku saat ini.
Setelah keluar sekolah SMA, saya bekerja menjadi Sales Promotion Girl alias SPG di sebuah counter hp dan laptop terbesar yang ada di salah satu mall di kota tempat saya tinggal. Dan lagi-lagi keanehan itu terjadi. Tidak ada satupun laki-laki yang berani mendekati saya, mereka hanya bisa mengagumi saya dari kejauhan.
Setelah dilabrak Bu sari, istri seorang laki-laki hidung belang yang mengaku-ngaku sebagai bujangan, saya mengundurkan diri dari tempat kerja saya. Betapa tidak, saya merasa sangat malu saat itu, laki-laki yang menjadi pacar saya, yang selalu ada setiap saya membutuhkannya hingga saya sangat membangga-banggakannya di depan kawan-kawan di tempat kerja saya, ternyata sudah beristri dan mempunyai tiga orang anak.
Setelah itu saya memilih bekerja menjadi buruh pabrik saja, karena di sana sepertinya orang-orangnya lebih jujur apa adanya, menurut pandangan saya, setelah kurang lebih tiga tahun saya bekerja di pabrik itu, ada juga laki-laki yang mendekat. Erik, itulah nama laki-laki tersebut. Orangnya ganteng, bertubuh gagah dan atletis, berkulit sawo matang, dia mempunyai kharisma yang tidak biasa.
Siapapun yang melihatnya, serasa melihat Arjuna. Pembawaannya yang kalem membuat setiap wanita klepek-klepek dibuatnya. Termasuk saya. Saya sangat mencintainya, dan saya sangat siap sekali menjadi istrinya. Tapi kembali, kejadian pahit itu datang lagi. Ternyata saya bukan satu-satunya wanita yang dia punya.
Banyak sekali wanita yang mengaku pacarnya. Bahkan ada yang mengaku sebagai calon istrinya karena dia sudah hamil dan akan segera menikah. Kali ini hati saya sangat hancur lebur. Betapa tidak, saya sangat mencintai dia, dan saya sangat mengharapkan dia menjadi suami saya, tapi dengan sangat terpaksa saya harus mundur karena perempuan yang hamil itu menuntutnya, dan mengancamnya agar segera menikahinya.
Baca Juga: Keluarga Awalan Huruf “R”
Tahun-tahun setelah kejadian itu saya menjadi trauma dengan yang namanya laki-laki. Saya takut saya dikecewakan lagi, sehingga tanpa saya sadari saya menutup hati saya untuk laki-laki manapun, sehingga saya tidak sadar, bahwa waktu terus berlalu, dan saya semakin menua karena umur saya semakin bertambah. Meskipun kecantikkan saya tidak jauh beda dengan dulu, saya merasa tidak percaya diri bila ada laki-laki yang mendekati.
Alhasil, kini, di usia saya yang sudah separuh baya ini, saya masih hidup sendiri. Banyak sekali orang yang ingin menjodohkan saya dengan saudara, kerabat atau pun teman mereka, tapi hati saya masih selalu terpaut dengan satu nama yang membuat saya susah untuk melupakannya. Ya, Erik, saya masih mencintainya, dan saya belum bisa melupakannya, sedangkan dia sudah mempunyai empat anak dari istrinya yang dulu dia nikahi itu.
Saya tidak tahu, apakah saya bodoh, ataukah saya mempunyai kesetiaan yang sangat tinggi, ataukah saya memang sangat mencintainya hingga saya lupa dengan luka yang sudah dia goreskan di hati saya. Yang jelas, saya belum bisa membuka hati saya untuk laki-laki manapun.
Dan saya berharap ada laki-laki yang bisa mendobrak pintu hati saya dan menghangatkan nya karena saya juga ingin bahagia seperti yang lain. Saya ingin berumah tangga dan mempunyai anak seperti perempuan-perempuan lain pada umumnya.
Dan saya tidak tahu apakah saat itu akan hadir, ataukah kematian dulu yang datang menghampiri saya, yang jelas saya hanya bisa berdoa dan berusaha untuk menjadi hamba-NYA yang lebih baik lagi. Kini, saya sudah berpakaian rapi dengan menutup aurat saya agar laki-laki hidung belang itu tidak bisa melihat kecantikan saya dan tidak akan berani mendekati saya lagi.
Semoga jodoh sehidup semati saya segera mendekat dan mengucap akad untuk saya, karena saya sudah siap untuk menjadi istri sholihah yang akan selalu mendukung suami saya dalam mengerjakan hal-hal baik yang berguna untuk kehidupan kami dan kehidupan masyarakat yang hidup di sekitar saya.
Aamiin yaa robbal’aalamiin
Selesai.
Penulis: Juju Juwita
Editor: Lusiana









