Cerpenin.com – Sebut saja aku Mada. Aku dilahirkan dari keluarga yang keras dan disiplin. Terkadang dengan kehidupanku seperti itu membuatku tak bebas dari masalah ataupun dari hal-hal lainnya. Ayahku mendidikku dengan penuh militan dan tak ada kata istirahat, meski hanya untuk mencicipi makanan atau menegak sedikit minuman pelepas dahaga. Aku dari kecil sudah ditinggal Ibu karena kecelakaan maut. Ayah masih selamat atas peristiwa itu dan sekarang ayah memakai tongkat sebagai penopang dia untuk berjalan.
Begitulah hidupku, penuh dengan yang namanya beban dunia dan kekangan dari seorang ayah. Namun, aku tetap bersyukur karena dengan itulah hidupku bisa menjadi sukses serta bisa meraih cita-citaku, meski ayahku tak bisa melihat semua itu karena takdir telah dijemput oleh Yang Maha Kuasa.
Entah sudah berapa lama aku menerima semua ini? Aku sangat takut dan jenuh ketika ayah selalu mengawasiku di kala aku belajar. Dengan tongkatnya yang penuh misteri, aku selalu gelisah dan was-was tatkala dia akan datang ke kamarku dengan dentumannya itu.
Beberapa kali temanku juga sering mengajakku bermain di luar. Sayangnya, ayah selalu melarangku, meski hanya bertegur sapa saja dengan mereka. “Mada, tak ada yang namanya bermain selama tugasmu belum selesai,” ucap ayah dengan penuh amarah. Entah kenapa ayah selalu saja begitu padaku. Tapi saat itu aku melawan dengan nada yang sama seperti ayah.
“Ayah.., aku tuh capek dengan semua ini. Aku sudah menuruti semua kemauan ayah, tapi mengapa ayah seperti terlalu mengekangku?,” ucapku dengan hati yang sebenarnya penuh penyesalan yang begitu mendalam.
Ayahku adalah seorang dosen terkemuka di negeri ini. Dia biasa disebut Pak Mukti, seorang dosen killer yang tegas dan militan. Dia selalu membuat mahasiswa dan mahasiswinya ketakutan dengan apa yang dia sampaikan, baik itu berupa pengajaran atau tugas yang sangat menyulitkan bagi mereka.
Namun, dengan karakter ayahku itu, Mahasiswa dan Mahasiswinya mendapat kesuksesan dan prestasi istimewa. Tapi efek ajarannya tetap membekas dan membuat mereka terkuras secara fisik dan mentalnya tanpa mengurangi rasa hormat kepada ayahku itu.
“Mad, ayah melakukan hal ini karena untuk kebaikanmu juga,” ucap ayah sedikit melunak. Aku hanya terdiam dan mendengarkan apa yang ayah katakan. Dia menambahkan ucapannya, “Lebih baik lelah dalam belajar daripada terkurung dengan kebodohan.”
Ucapan ayahku memang ada benarnya. Kesenangan hanya kesemuan semata tatkala kesuksesan menungguku di ujung sana. Namun, tetap saja hatiku berontak dengan umurku yang terbilang masih belia ini. Aku masih butuh kesenangan, ketenangan dan aku juga butuh pertemanan karena aku juga adalah makhluk sosial, makhluk yang saling membutuhkan satu sama lainnya.
Sering kali teman-temanku mengajakku untuk bermain ke lapangan di saat diriku masih mengerjakan tugas. Tapi aku selalu takut dan was-was kalau ayah melihatku di sana dengan penuh kesenangan, meski hanya sekejap saja. “Mad, ayolah kali ini kita main bola di lapangan, mumpung ayahmu belum ada di rumah,” goda teman-temanku dengan penuh harapan. Mungkin mereka juga iba dan kasihan padaku yang saban hari terkurung di kamar hanya untuk secuil tugas yang sebenarnya bisa dikerjakan di hari lain.
“Kali ini aku harus merasakan kesenangan itu,” gumamku yang melihat kesempatan emas di depan mata. Hal ini sekaligus membuat senang teman-temanku yang sudah lama ingin bermain denganku. Lapangan buatku bak surga karena disitulah kenikmatan dan kegembiraan bisa aku dapatkan. Dari mulai bermain kucing-kucingan hingga bermain bola membuat hatiku makin berbunga-bunga. “Mad, senang kan kamu? Syukurlah kali ini kita bisa mengajakmu bermain,” ujar salah satu temanku yang melihatku memancarkan wajah penuh kegembiraan. Momen ini juga adalah momen dimana aku bermain pertama kalinya setelah beberapa tahun terakhir tak bisa merasakan yang namanya udara bebas.
“Ya, aku senang banget, teman. Terima kasih atas ajakannya,” ujar aku penuh kegembiraan. Setelah itu, aku bergegas pulang ke rumah supaya tidak ketahuan oleh ayah yang mungkin saja sedang dalam perjalanan pulang. Tak seperti yang kuduga, ternyata ayah sudah berada di rumah. Nenekku tak bisa berbohong karena ayah sudah tahu dan melihatku berada di lapangan ketika menuju rumah. Aku pun tak sadar kala itu karena asyik bermain bersama teman-temanku. Aku dan ayahku akhirnya berdebat lumayan alot dan berat:
Ayah: “Kamu darimana saja, Mada???”
Mada: “Mada…Mada…lagi..”
Ayah: “Ayah sudah bilang, kamu jangan keluar setelah menyelesaikan pekerjaanmu!”
Mada: “Apa yang ayah harapkan dari Mada? (Dengan nada sedikit marah)
Ayah: “Ayah hanya ingin kamu menjadi orang sukses dan membanggakan ayahmu ini, nak..”
Mada: “Ayah egois…ayah ga tahu perasaanku saat ini seperti apa? Aku capek, jenuh dan bosan, ayah! Ayah sudah mengekangku.. masa aku tak boleh bermain sebentar saja?”
Ayah: “Kamu sudah berani melawan ayah hah..?” (Tongkatnya pun melayang dan menghujam ke bagian belakang punggungku)
(Arggh…rasa sakit kurasakan ketika ayah secara reflek melepaskan tongkatnya itu ke bagian belakang punggungku)
Mada: “Ayah…, ayah pernah bilang: ‘Lebih baik lelah dalam belajar daripada terkurung dalam kebodohan,” aku sudah lelah belajar ayah. Apa salahku menikmati kesenangan sebentar saja bersama teman-temanku? Aku sudah banyak mendapat prestasi yang sangat jelas membuat ayah bangga. Kenapa ayah selalu menekanku seperti ini?”
Ayahku baru sadar bahwa selama ini terlalu menekanku. Kemudian ayah luluh dan berkata dengan tulus, “Maafkan ayah, ya nak. Tadi ayah khilaf memukulmu dengan tongkat ayah.” Tapi aku tetap kesal dan tak menggubris permohonan maafnya. Aku pun langsung memasuki kamar dengan perasaan tak menentu.
Ayahku merasa bersalah dengan apa yang dilakukan kepadaku. Hal itu ditambah dengan kurang harmonisnya hubunganku dengan ayah selama hampir beberapa bulan pasca kejadian yang kurang mengenakkan itu. Rumahku bak asing yang hanya lalu lalang saja tanpa adanya tegur sapa. Aku pun mendapatkan kabar kurang baik tentang ayah. Setelah beberapa bulan masalah denganku berlalu, ayah juga bermasalah dengan mahasiswa-mahasiswinya karena tidak lulus dalam mata kuliahnya.
Ayah jelas merasa kesal dan sedih karena hampir selama 15 tahun dia mengajar, baru kali ini dia melihat mahasiswa dan mahasiswinya mendapat nilai di bawah standar sehingga mengharuskan mereka mengikuti semester pendek. Perasaan ayah kala itu campur aduk karena tak bisa menyelesaikan antara masalah keluarga dan masalah dalam perkuliahan. Dia berpikir seperti tak ada solusi untuk memecahkan masalahnya itu.
Nasib nahas akhirnya mendatangi ayahku sekaligus membuatku sedih. Ayah mengalami kecelakaan maut yang sangat tragis. Peristiwa itu terjadi ketika dia akan menyebrang di jalan, dia hampir saja tertabrak oleh sebuah motor, tapi dia masih mampu menghindarinya. Namun, setelah itulah ajal menjemputnya ketika dia tertabrak oleh sebuah truk sehingga langsung menewaskannya.
Sebenarnya ayah berniat menyelamatkan mainanku waktu kecil berupa gantungan bola, tapi ayahku tidak tepat mengambilnya dan ayah tak sadar ada truk yang melaju sangat kencang dihadapannya.
Aku sangat rapuh akan hal ini, begitupun mahasiswa dan mahasiswinya yang sudah menunggu lama di kampus. Mereka sudah menunggu 1-2 jam untuk kelas semester pendek, tapi tak ada info atau pemberitahuan lebih lanjut.
Akhirnya mereka pun mendapat kabar via whatsapp bahwa Pak Mukti mengalami kecelakaan dan segera menuju rumahku untuk mengucapkan bela sungkawa. “Dek, turut berduka cita atas kepergian Pak Mukti. Adek harus tetap semangat dan tegar ya. Insya Allah Bapak akan senang kalau adek bisa sukses dan meraih cita-cita adek,” ujar salah satu mahasiswa yang bernama Fatih. Dia berusaha menghiburku di kala kedua orang tuaku sudah meninggalkanku untuk selamanya. Ada juga kakak-kakak lain yang memberikan semangat serta menghiburku seperti kakak Rosyid, Adelia, Amir, dan Budi.
Sudah 20 tahun kejadian itu berlalu, tapi tetap saja mengingatkanku tentang semua peristiwa bersama ayahku. Jujur, aku merasa bersalah karena terus berontak kepada ayahku yang selalu mengekangku dengan keras untuk menjadi orang sukses. Meski terkesan arogan selalu menghinggapinya, tapi efek untukku memberikan hal positif. Aku pun bisa belajar dari perkataan ayah bahwa setiap detiknya harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Aku bersyukur karena bisa bertemu dengan mahasiswa dan mahasiswa ayah yang sebelumnya akan melakukan semester pendek. Mereka memberikan beribu semangat untukku supaya bisa survive terhadap permasalahan yang aku alami. Akhirnya, aku bisa melanjutkan karierku seperti ayahku, yaitu menjadi seorang dosen muda. Aku ingin menjadi seorang dosen yang mempunyai dedikasi yang tinggi tanpa mengurangi empati terhadap mahasiswa ataupun mahasiswinya.
Terima kasih ayah…
Meski kekanganmu kadang menyiksaku, tapi itu semua menjadi sebuah lecutan semangat bagiku untuk menjadi pribadi lebih baik ke depannya. Dan aku tetap mengingat apa yang ayah katakan di kala aku sedang rapuh: “Lebih baik lelah dalam belajar daripada terkurung dalam kebodohan.”
Penulis: Hari Setiawan
Editor: Fathnan









