Langit Jogja

Fathnan

Maret 31, 2026

4
Min Read
lagit jogja

Langit Jogja pada pukul 17.30 WIB berwarna jingga kekuningan.

Di sebuah kamar yang nyaris terlalu tenang, setiap benda tertata rapi. Foto-foto masa kecil berjajar di meja belajar; sebagian menggantung di dinding, berdampingan dengan poster penyanyi R&B dan smooth jazz yang menghiasi ruangan itu.

Gisel duduk di tepi kasur sambil menatap ponsel di tangannya lama sekali. Layar ponsel menampilkan judul gosip yang tengah hangat di media sosial: “Pebisnis sukses Hendri Rahman terlihat makan malam romantis bersama model muda yang tengah naik daun.”

Hendri Rahman.

Nama yang dulu terasa hangat, kini hanya terdengar seperti milik orang asing di layar ponsel.
Di mata orang lain, ia pebisnis sukses; tapi bagi Gisel, itu lelaki yang pernah berjanji tak akan pergi.

Ia menghela napas panjang, seolah mencari alasan untuk tidak kecewa lagi. Jari-jarinya menggenggam ponsel erat-erat. Di kolom komentar, ribuan orang membicarakan mereka-memuji kecantikan sang model, mengatakan bahwa mereka terlihat sangat serasi, menebak-nebak kapan Hendri akan melamar Kellen, sang model yang sedang naik daun.

Tapi tak satu pun tahu, di balik berita itu ada seorang anak yang diam-diam menatap layar dengan dada sesak; seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan, tapi entah mengapa selalu terlambat untuk diucapkan-atau mungkin memang tak pernah bisa disampaikan sama sekali.

Tok, tok, tok.

Suara ketukan di pintu membuatnya tersadar dari lamunan. Ia mengenali irama ketukan itu—pelan, diulang tiga kali.

“Mbak Gisel, ayo makan malam dulu. Sudah disiapkan di bawah. Jangan sampai telat makannya,” kata Bunda sambil membuka pintu kamar.

“Oh, iya, Bun. Aku turun sekarang,” jawab Gisel pelan.

Ia lalu mematikan ponselnya, meletakkannya di atas kasur, dan bergegas turun ke lantai bawah untuk makan malam bersama keluarga di meja makan.

Suasana ruang makan terasa hangat. Di meja sudah tersaji ayam goreng, sayur bening, dan sambal kesukaan Ayah.

Gisel duduk di kursi samping Ayah, berhadapan dengan Bunda yang sedang menuangkan nasi untuknya.

“Gimana, Mbak? Tugasnya sudah diselesaikan?” tanya Ayah.

“Udah… tinggal dikumpulin aja besok. Semua aman,” jawab Gisel singkat sambil memainkan sendok di atas meja makan.

Bunda tersenyum kecil.

“Ya sudah, berarti habis ini istirahat, ya. Besok berangkat pagi, jangan sampai telat.”

Gisel mengangguk. Tapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang menggantung. Ia memperhatikan cahaya lampu di ruang makan, suara piring yang saling beradu, dan tawa kecil antara Bunda dan Ayah.
Semua terlihat damai—terlalu damai.

Namun ada satu ruang kosong yang tak bisa diisi siapa pun.

Setelah makan malam selesai, Gisel kembali ke kamarnya. Ia langsung merebahkan diri di kasur dan menghela napas panjang. Saat menengok ke kanan, matanya tertuju pada meja belajar yang di atasnya tertata rapi foto-foto masa kecilnya.

Ada satu foto dirinya bersama Papa Hendri. Gisel bergegas mengambil foto itu, lalu kembali berbaring di kasur. Ia menatap bingkai kayu itu lama sekali, seolah memori masa lalu berputar kembali di kepalanya-seperti nostalgia yang datang tanpa diundang.

Ia masih ingat jelas saat foto itu diambil-saat usianya baru enam tahun. Papa dan Bunda mengajaknya berlibur ke Disneyland Hong Kong, membeli bando Minnie Mouse yang dipakai oleh Bunda dan dirinya, sementara Papa mengenakan topi berbentuk telinga Mickey Mouse.
Angin sore berhembus lembut, meniup rambut Gisel yang dikepang dua.

“Mbak, lihat di sini! Ada es krim bentuk Mickey Mouse!” seru Papa, suaranya diiringi tawa.

Gisel berlari kecil ke arah stan es krim, meminta dibelikan es krim itu dengan wajah yang begitu sumringah. Papa memotret momen itu, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi-tanpa tahu bahwa kelak, kenangan sesederhana itu akan begitu dirindukan.

Kenangan itu berputar lembut di kepalanya. Perasaan marah, rindu, dan sedih bercampur menjadi satu. Ia ingin bicara—ingin mengungkapkan perasaannya-tapi tak tahu harus mulai dari mana.
Seperti film lama yang warnanya perlahan memudar.

Tapi kini, Gisel tahu: beberapa janji hanya terdengar utuh di masa lalu.

Gisel akhirnya mengembalikan foto itu dan meletakkannya rapi di meja belajar seperti biasa. Ia menyadari bahwa mungkin papanya kini bahagia bersama orang lain, dan kebahagiaan itu tak harus melibatkan dirinya.

Ia menatap kembali foto lama itu, lalu membalik bingkainya.

Bukan karena benci, tapi karena ingin berhenti menunggu yang tak akan kembali.

Di luar, hujan turun pelan, seperti memahami sesuatu yang tak bisa diucapkan.
Dan di antara suara hujan itu, Gisel berjanji pada dirinya sendiri: ia akan belajar mencintai hidupnya, meski tanpa kehadiran utuh dari masa lalunya.

Setelah beberapa saat, ia bangkit, menutup tirai jendela, lalu membiarkan lampu tidur di meja samping kasur tetap menyala. Ia membaringkan diri kembali; ponselnya masih tergeletak di sisi bantal. Layarnya kini gelap, sunyi.

Perlahan, ia menarik selimut hingga menutupi dada. Masih ada sesak yang belum hilang—tapi juga ada ruang baru yang perlahan tumbuh di dadanya.

Ruang untuk menerima, dan mungkin, untuk memulai lagi.

Di luar kamar, suara langkah Bunda terdengar samar, memanggil namanya dengan nada lembut.
Gisel tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata, membiarkan suara itu larut bersama hujan.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Gisel tidak merasa sendirian.
Ia hanya merasa… pulih, perlahan.

Penulis: El Katya Latisha Fauzan

POST TERKAIT