“Aneh, kok bisa ya capung ini tetap hidup padahal sudah beberapa tahun. Dan ini sudah memasuki tahun ke 12, biasanya kan usia capung hanya beberapa bulan saja. Mungkinkah dia memang menjadi simbol cinta Fatur? Benarkah Fatur masih sama seperti dulu? Kapan kita akan bertemu lagi, aku merindukanmu.” gumam Sinta. Gadis manis berasal dari salah satu desa di Jawa Timur. Dia mendapatkan capung itu sebagai simbol cinta dari teman sekolah nya dulu saat duduk di bangku SD. Mereka berpisah karena Fatur di bawa ke luar negeri oleh orang tuanya. Dan sekarang Sinta sudah dewasa, usianya sudah menginjak 22 tahun. Hampir semua teman-temannya sudah menikah, dan dia masih sendiri karena dia sedang menunggu kedatangan Fatur. Fatur berjanji akan pulang ke desanya di bulan April tahun depan. Itu artinya Sinta masih harus menunggu sekitar 5 bulan lagi.
“Sekarang masih bulan Desember. Rasanya aku tidak sanggup untuk menunggu lagi kedatangan Fatur.”
Gumam Sinta kepada sang capung.
Dan ditempat yang nun jauh disana, Fatur sedang berjuang melawan penyakit kanker otak kronis yang dideritanya semenjak dia masih kecil. Dulu dia dibawa ke Singapura bukan untuk bersekolah, tapi memang untuk pengobatan. Dan hal itu dirahasiakan keluarga Fatur entah karena alasan apa. Hari demi hari Fatur terus berjuang. Berbagai pengobatan sudah dilakukan. Namun hasilnya tidak terlalu memuaskan. Kini orang tua Fatur sudah mulai lelah berjuang. Begitu juga dengan Fatur, dia pun sudah pasrah. Yang dia inginkan hanyalah kembali pulang ke desa untuk menunaikan janjinya dulu kepada gadisnya, Sinta. Fatur berjanji pada Sinta bahwa dia akan pulang dan menemuinya.
Seminggu berlalu. Fatur dan orang tua nya sudah kembali ke desa nya. Fatur meminta orang tua nya untuk mempertemukannya dengan Sinta. Dengan memakai kursi roda, dibantu orang tuanya Fatur, mereka mendatangi rumah Sinta. Sinta dan keluarga nya sangat terkejut melihat keadaan Fatur yang mengkhawatirkan. Tangis Sinta pun pecah.
“Pantas saja kamu tidak mengirim kabar beberapa tahun ini Fatur.. Ternyata kamu sedang sakit, kenapa kamu tidak terus terang, aku hampir saja putus asa dan ingin melupakanmu saja karena takut kamu berdusta.” Kata Sinta di sela-sela tangisnya.
Fatur hanya bisa tersenyum getir. Hatinya teriris. “Kamu masih suka menangis, seperti masih kecil dulu.” Jawab Fatur dengan gaya khas masa kecilnya dulu membuat semua yang hadir di sana tertawa. Suasana haru pun berubah menjadi lebih hangat. Dan perbincangan mereka terus mengalir menceritakan semua hal.
Fatur dan Sinta berjanji akan bertemu lagi esok hari di taman dekat sungai tempat mereka bermain dulu.
Keesokan harinya mereka bertemu. “Tempat ini tidak berubah, tetap nyaman untuk dipakai bermain dan berteduh saat terik matahari.” Ucap Fatur dengan senyuman yang terus berkembang. Dia sangat merindukan tempat itu. “Seandainya aku sehat aku ingin berlari-lari seperti dulu.” Ucapnya sambil meneteskan air mata.
“Aku merindukan tempat ini, dan aku ingin berteriak.” Sambungnya.
“Berteriak saja, tidak ada yang melarangmu Fatur.” Kata Sinta.
Fatur yang bersedih menjadi tertawa. “Aku Malu.” kata Fatur.
“Tidak perlu malu, kenapa harus malu, anggap saja kita masih kecil.” Jawab Sinta.
Obrolan itu terus berlanjut. Kehadiran Sinta benar-benar bisa membuat Fatur berubah. Dia yang tadinya tidak semangat menjalani hidup menjadi lebih tenang dan terlihat bahagia. Ekspresi dari kebahagiaannya itu sangat terpancar di wajahnya.
Sampai tiba-tiba Fatur bertanya satu hal yang mengagetkan Sinta.
“Sinta, apakah kau mau menikah denganku?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Fatur.
Sinta sedikit tersentak kaget hingga dia bungkam seribu bahasa. Fatur menyadari kesalahannya dan langsung meminta maaf. Tapi tiba-tiba Sinta meraih tangan Fatur. “Aku sudah menunggumu selama ini. Dan kau tidak mengecewakan aku, jadi aku juga tidak boleh mengecewakan mu.” Jawab Sinta sambil tersenyum.
Kali ini giliran Fatur yang kaget.
“Tapi aku sakit. Aku hanya tinggal menunggu waktu ku saja yang mungkin tidak akan lama, kau berhak bahagia, aku takut tidak akan bisa membahagiakanmu Sinta.” Jawab Fatur sambil menunduk.
“Kita menikah, setelah itu, untuk bulan madu kita, kita pergi ibadah umroh saja. Katanya jika berdoa di sana doa kita akan cepat terkabul, dan katanya juga, air zamzam itu adalah obat yang paling mujarab dari segala obat yang ada di dunia ini. Aku tidak tahu ini betul atau tidak, tapi apa salahnya kalau kita coba.”
Tutur Sinta panjang lebar.
“Bukankah ibadah itu bukan untuk coba-coba? Bagaimana kalau kita serius saja menjalani ibadah umroh kita. Masalah aku sembuh atau tidak aku tidak peduli. Mungkin sakitku ini memang pengingat untuk aku dan keluargaku yang sering lalai dalam beribadah.” Jawab Fatur.
“Begitu juga lebih baik Fatur.” Kata Sinta sambil tertawa cengengesan khas tawa nya dia.
Setelah pulang mereka membicarakan rencana mereka kepada orang tua mereka masing-masing. Orang tua mereka merasa sangat bangga mendapati anak-anak mereka yang kuat dalam menghadapi masalah hidup mereka. Dan orang tua mereka mendukung rencana itu. 3 minggu kemudian mereka menikah.
Dan 2 hari setelah menikah, mereka berdua berangkat ke kota Mekah untuk menjalankan ibadah umroh. Mereka terlihat sangat bahagia.
Orang-orang yang mengantar mereka meneteskan air mata. Ketulusan Sinta dan kekuatan Fatur dalam berjuang menghadapi penyakitnya selama bertahun-tahun, mampu menyentuh hati semua orang. Dan mereka semua pun mendoakan kesembuhan Fatur.
Baca Juga: Dokter Psikopat
Ibadah Umroh mereka pun telah selesai. 10 hari mereka meninggalkan tanah air untuk melaksanakan ibadah itu. Dan kini mereka sudah kembali ke rumah orang tua Fatur. Fatur bercerita “Saat di depan Ka’bah, saat saya sedang meminta kesembuhan untuk penyakit saya, saya mendapatkan penglihatan bahwa ayah dan ibu menyuapi saya dengan bara api, itulah yang menjadi penyebab penyakit saya, saya mohon kepada ayah dan ibu untuk bertaubat.” Kata Fatur sambil menangis.
Tangis orang tua Fatur tidak terbendung lagi. Mereka menangis sejadi-jadinya. “Maafkan kami Fatur, kami bersalah. Dan kami akan bertaubat.” Kata ayah dan ibu Fatur.
“Katakanlah padaku ayah, ibu, apa yang kalian lakukan hingga aku mendapatkan penyakit seperti ini?” tanya Fatur
Ayah Fatur menceritakan bahwa dia dulu pernah berseteru dengan adik-adiknya karena perihal warisan dari kakeknya Fatur. Dan ibunya menceritakan bahwa mereka berprofesi sebagai rentenir di kota. Tidak sedikit korban kebiadaban mereka. Itulah sebabnya uang mereka sangat banyak dan tidak habis-habis meskipun dipakai untuk biaya berobat Fatur selama bertahun-tahun.
Sinta yang baru mengetahui hal itu bergidik ngeri. Dan Fatur hanya bisa menangis mengetahui kebenaran itu. Dia sangat menyesali semua yang telah terjadi. “Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat, kalian bertaubatlah, aku tidak mau jadi anak kalian jika kalian terus melakukan perbuatan keji itu. Pantas saja aku selalu merasa tercekik saat bernafas dan aku merasakan sakit yang tak terhingga di kepalaku. Itu semua dosa kalian. Ternyata kalian menyakiti aku.” Kata Fatur sambil menangis dengan tersedu-sedu. Sinta yang merasa sayang dan kasihan pada suaminya segera menenangkannya.
“Sekarang semuanya sudah terbuka. Jika memungkinkan, meminta maaflah pada semua orang yang kalian sakiti. Jika tidak mungkin, mungkin sholat taubat, dan berhenti melakukan perbuatan itu akan menjadi obat untuk Fatur.” Kata Sinta dengan bijaknya.
“Kami akan berhenti dan kami akan melunaskan hutang semua orang yang mempunyai hutang pada kami. Kami juga akan meminta maaf pada mereka meskipun mungkin tidak akan semuanya karena sangat banyak sekali dan kami tidak tahu dimana mereka tinggal karena kami membayar orang untuk membantu kami.” Jawab Ayah Fatur.
Esoknya mereka pergi ke kota untuk menemui orang-orang suruhan mereka. Tidak mudah karena orang-orang suruhan itu meminta bayaran yang sangat mahal karena mereka merasa menjadi pengangguran bila mereka berhenti menagih dan mencari orang-orang yang akan dijadikan korban kekejaman mereka. Tapi itu tidak menjadi masalah bagi orang tua Fatur. Bagi mereka kesembuhan Fatur adalah yang utama.
Seminggu berlalu. Keajaiban pun datang. Sedikit demi sedikit keadaan Fatur mulai membaik. Semua heran dan banyak yang bertanya-tanya, bagaimana bisa penyakit itu seperti hilang sendiri tanpa diobati. 2 bulan pun berlalu, dan Fatur sudah sehat wal afiat. Dia sudah bisa beraktivitas normal. Jalan nya, bicaranya, tatapan matanya, semuanya normal kembali. Dan acara syukuran pun digelar oleh keluarga Fatur. Dengan mengundang Ustadz setempat dan para warga, acara itu berlangsung dengan sangat khidmat. Tidak sedikit yang merasa gembira dan terharu. Hampir semua yang hadir menangis karena takjub melihat keadaan Fatur.
Fatur yang sakit dengan tubuh yang ringkih, wajah dengan tulang yang menonjol, kepalanya yang plontos dan kulit nya yang keriput, kini berubah total. Tubuhnya tegap berisi. Garis wajahnya tegas dan tampan. Rambutnya yang tumbuh berkilauan, serta kulitnya yang halus membuat semua orang yang melihatnya merasa iri. Fatur bagai lahir kembali. Dia seperti bayi mungil yang lucu dan tampan.
Selesai acara semua orang berebut ingin bersalaman dan mengucapkan selamat kepada Fatur. Fatur, Sinta dan keluarga nya merasa sangat bahagia dan beruntung. Dan keesokan harinya, Fatur teringat pada capung pemberian nya dulu kepada Sinta, dia pun menanyakan keadaannya.
“Oh ya, aku dulu pernah kasih capung kan ke kamu sebagai simbol cintaku.” Tanya Fatur pada istrinya, Sinta.
“Hmmm iya. Kamu baru ingat?” Jawab Sinta.
“Aku ingat, hanya saja aku tidak terlalu memikirkannya karena…” Kata Fatur yang berhenti berbicara dan menunduk.
“Ah sudahlah, ayo kita lihat capung itu!” Ajak Sinta.
Mereka berdua melihat capung itu. Fatur merasa kasihan melihat capung itu. “Rasanya aku jahat sekali memberikan capung ini padamu, dia jadi terkurung dan tidak bisa terbang bebas. Bolehkah aku membebaskan capung ini biar bisa terbang dan hidup bebas seperti capung yang lain.” Pinta Fatur.
“Boleh, tapi pastikan bahwa cinta mu tidak terbang bebas kemana-mana dan cukup hanya untuk ku saja.” Jawab Sinta sambil tersenyum malu-malu.
“Tentu saja istriku, kau tidak perlu takut begitu hanya karena aku sudah lebih tampan dari dulu..” Jawab Fatur sembari memeluk istrinya dengan mesra.
Mereka berdua pergi ke taman pinggir sungai tempat mereka bermain dulu, dan mereka menerbangkan capung itu bersama-sama. Entah kenapa hati mereka merasa lega. Mungkin capung itu bukan hanya sekedar simbol cinta Fatur, tapi juga simbol hidup Fatur.
Dulu dia terkungkung oleh penyakitnya yang membuat hidupnya tidak bebas, sama seperti capung itu yang terkurung dan tidak bisa terbang bebas. Kini Fatur dan Capung itu sudah sama-sama terbebas dari kurungan dan sama-sama bahagia.
Tamat.
Penulis: Juju Juwita









