Kisah Kasih 4 Sahabat Kembar

Fathnan

Desember 30, 2025

10
Min Read
4 sahabat kembar

“Jika aku tiba-tiba mati, bisakah kau menjaga Kirana untukku?” tanya Raka pada saudara kembarnya, Riko. Disuatu senja saat mereka duduk bersama dibangku halaman belakang rumah mereka.

“Apa maksud perkataanmu?” jawab kaget Riko.

“Entahlah, aku hanya merasa kalau aku tidak akan dapat melangsungkan pernikahan itu.” katanya. “Aku minta tolong padamu, jaga Kirana untukku,, buat dia agar selalu tersenyum.. Dan jangan buat dia menangis.” sambungnya.

“Apa maksudmu? Aku tidak mau.” jawab Riko singkat.

“Rasanya ada sesuatu yang aneh, semoga ini hanya perasaanku saja.” Gumam Raka yang belakangan ini dihinggapi perasaan aneh, yang membuat dia berpikir bahwa dia tidak akan bisa menikahi Kirana.

“Iya.. Sudahlah jangan berbicara yang aneh-aneh. Lebih baik kita bicarakan acara pernikahan kita!” kata Riko.

“Apakah kau ingin acara ini digelar secara wah atau sederhana saja?” Sambungnya mencoba mencairkan suasana.

“Entahlah.. Saat ini aku mengantuk dan ingin tidur.” Jawab Raka yang memilih berdiri dan berjalan dengan lunglai menuju kamarnya.

“Jangan begitu! Aku belum selesai bicara.” Kata Riko sedikit kesal.

“Riko… sedang apa kau disini? Istrimu nanti mencarimu. Ingat! Dia sekarang sedang mengandung anakmu” Kata Bu Lastri menegur Riko yang sedang duduk melamun dibangku halaman belakang rumah, saat hari menjelang maghrib.

Riko menoleh, air matanya hampir tumpah. Sekuat tenaga dia menahan agar air matanya itu tak jatuh. “Aku ingin memeluk ibu. Bolehkah aku memeluk ibu?” Kata Riko sambil merentangkan tangannya.

“Tentu saja.. aku ini ibumu.” Kata Bu Lastri. Mereka berpelukan, dan tanpa ibunya sadari, Riko menangis.
“Apa kau menangis nak?” tanya Bu Lastri tanpa melepaskan pelukannya.

“Aku teringat Raka bu. Entah kenapa aku belum bisa melupakannya. Hatiku masih merasa sakit karena kepergiannya yang begitu tiba-tiba.” Jawab Riko sambil mengeratkan pelukannya.

“Kalian kembar tentu saja kau akan sangat susah sekali untuk menerima kepergiannya. Tapi ingat! Berusahalah untuk tidak menampakkan kesedihanmu di depan siapapun! Kamu ini laki-laki, jadi kamu harus kuat.” Kata Bu Lastri sambil mengusap-ngusap lembut punggung, dan rambut anaknya yang kini tinggal semata wayang, karena Raka, saudara kembarnya Riko sudah meninggal dunia karena kecelakaan 1 tahun yang lalu.

Ya, Raka meninggal dunia karena kecelakaan saat akan membeli sesuatu ke kota. Raka akan menikah dengan Kirana dan Riko akan menikah dengan Karina. Mereka adalah 2 saudara kembar. Raka kakaknya Riko. Sedangkan Karina kakaknya Kirana. Mereka adalah teman sepermainan sejak kecil yang berasal dari desa Palasari. Sebuah desa yang terletak di kaki Gunung Manglayang.

“Baik bu..” Jawab Riko sambil melepaskan pelukannya. Lalu Dia menarik nafas panjang untuk melegakan rasa sesak yang menghimpit dadanya. Meskipun dia kerap kali menjahili Raka, karena kebiasaan Riko yang selalu iseng dan jahil serta sikapnya yang keras terhadap Raka, tapi dibalik itu Riko sangat menyayangi Raka. Baginya Raka adalah idola. Raka selalu memaafkan semua kesalahan Riko dan memaklumi keisengan yang selalu dibuatnya.

“Aku pulang dulu bu. Karina pasti sudah menungguku, aku tidak mau membuatnya khawatir. Aku tau dia terluka bila aku menikahi adiknya. Itu yang membuatku rapuh. Meskipun dia tidak menunjukkannya, tapi aku tahu siapa dia dan bagaimana karakternya.” Kata Riko.

“Jika kamu merasa keberatan dengan pernikahan keduamu ini, kau berhak membatalkannya anakku. Memang pada dasarnya tidak akan ada wanita yang mau dimadu.” Kata Bu Lastri yang mengerti keadaan Riko. Bu Lastri tidak mau rumah tangga anak semata wayangnya berantakan hanya karena keinginan mendiang anaknya Raka. “yang lalu biarlah berlalu.” pikirnya. Berbeda dengan suaminya Pak Hamdan yang setuju Riko menikahi Kirana, dengan alasan karena laki-laki boleh memiliki istri lebih dari 1 pikirnya. “Yang penting Riko bisa adil.” Katanya pada suatu malam saat mereka berkumpul.

Akhirnya Riko pulang ke rumahnya. Benar saja, istrinya sudah menunggunya. Meskipun dengan wajah yang dibuat setenang mungkin tapi tetap saja, dia tak bisa menyembunyikan perasaannya.

“Akhirnya kamu pulang juga, aku kira kamu ga akan pulang karena dipingit.” Katanya sedikit menyindir suaminya yang akan menikah lagi. Mereka akan menikah atas keinginan Raka. Di akhir hidupnya, dipangkuan Riko sebelum Raka menghembuskan nafas terakhirnya, dia meminta kesediaan Riko untuk menikahi Kirana. Belum sempat Riko menolak keinginan kakaknya, Raka sudah pergi untuk selamanya.

Setahun sudah kematian Raka, Riko masih belum bisa menunaikan keinginannya itu, ditambah lagi sikap istrinya Karina yang sedikit lebih tenang, dan sedang hamil tua, membuat Riko tambah merasa berat, karena tidak biasanya Karina bersikap seperti itu. Dia cenderung keras, dan meledak-ledak.

Dan Kirana, dia sangat mencintai Raka, dia terus mendesak Riko untuk menunaikan keinginan Raka. Meskipun biasanya dia bersikap lembut, kali ini dia bersikap sedikit keras. Entah karena kecewa, entah pula karena dia terlampau sedih. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia tidak menginginkan pernikahan ini, dia sadar hal itu akan menyakiti kakaknya, tapi dia juga ingin selalu bisa memenuhi semua keinginan kekasihnya. Mungkin inilah penyebab berubahnya sifat Kirana yang asalnya lembut menjadi keras.

“Kau menyindirku istriku sayang?” jawab Riko sambil memeluk istrinya dari belakang.

“Sudahlah akui saja kalau kau bahagia dan ingin segera melangsungkan pernikahan keduamu ini. Tak usah menunggu aku melahirkan, nanti kamu keburu ga sabar dapat 1 perawan lagi.” cerocos Karina sambil berusaha melepaskan pelukan suaminya.

“Kalau aku tidak mau menikahi Kirana bagaimana?” kata Riko jujur.

“Haaa..yang benar saja tidak mungkin laki-laki menolak dikasih perawan, akui saja, tidak usah malu-malu suamiku yang ganteng.” kata Karina sedikit memaksa padahal hatinya senang bukan kepalang.

“Sudahlah kalau kau tidak percaya istriku yang manis, lebih baik kita tidur saja, aku ingin memelukmu semalaman dan……” kata Riko sengaja menghentikan ucapannya. Dia memandang istrinya dengan genit dan mengedip-ngedipkan matanya dengan maksud menggoda istrinya.

“Dan apa suamiku yang ganteng ah…” kaget Karina karena Riko nekat membopong Karina dan membawanya menuju kamar mereka sebelum Karina sempat meneruskan ucapannya.

Keesokan harinya Karina bangun lebih dulu dari Riko. Dia menatap wajah suaminya lekat-lekat. “Aku sangat mencintaimu suamiku, dan aku bahagia memiliki dirimu yang sangat mencintaiku, dan aku berharap kita akan selalu bersama.” gumamnya sambil meneteskan air mata.

Rekomendasi cerpen lainnya: Cinta Segiempat “ Cinta di antara 4 Sahabat”

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, dan tibalah saatnya Karina melahirkan. Dia dibawa ke rumah sakit terdekat karena bidan tidak bisa mengatasi pendarahan yang dialaminya, akibat dia selalu mengejan sebelum waktunya melahirkan. Di rumah sakit, Karina langsung ditangani dokter spesialis kandungan. Terpaksa dia melahirkan dengan cara operasi caesar. Karina melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Tapi sayang seribu sayang, Karina meninggal dunia setelah operasi itu, dia terlalu banyak kehilangan darah.

“Oe..oe..oe..” Suara bayi yang menangis karena lapar. Atau mungkin juga dia menangis karena tahu ibunya meninggal dunia saat dirinya lahir kedunia. Semua orang menangisi kepergian Karina. Diantara mereka yang bersedih, Riko lah yang paling terpukul. Dia menangis tanpa henti. Dunia nya seolah runtuh. Hatinya hancur. Dan hidupnya seolah tidak berarti lagi karena kepergian Karina.
Saat itulah Kirana datang sambil menggendong bayi Karina.

“Bersyukurlah karena Karina sempat meninggalkan sesuatu yang berharga untukmu Riko. Lihatlah bayi ini. Ini buah cinta kalian. Dia membutuhkan ayahnya yang tegar dan kuat agar dia bisa terus tumbuh.” Katanya sambil terisak-isak. “Bersyukurlah Riko. Lihatlah aku yang tidak mempunyai apa-apa untuk ku kenang dari kekasihku yang pergi untuk selamanya. Dia hanya meninggalkan cinta dan kenangannya. Serta wasiat yang mungkin tidak akan pernah tertunaikan.” sambung Kirana.

Dhuar… Riko bagai tersambar petir mendengar ucapan terakhir Kirana. Dadanya bergemuruh menahan gejolak amarah yang siap meledak. Sekuat tenaga dia menahan amarahnya.

“Oe..oe” Tangisan bayi Riko berhasil meredakan amarah Riko. Dia meminta Kirana untuk memberikan bayi itu kepadanya.

“Mari sini ayah gendong nak.” ucapnya. Dia menggendongnya dan mengadzani nya sambil menangis. Setelah itu dia memberikan kembali bayinya kepada Kirana.

Kirana kembali menggendong keponakannya masuk kedalam kamar pasien untuk diberi susu.

Setelah Kirana masuk kamar pasien, Pak Hamdan berbicara “Benar apa yang dikatakan Kirana, kau harus segera menikahinya, bayimu membutuhkan perawatan dan kasih sayang seorang ibu, dan tidak ada yang lebih pantas selain Kirana.”

Riko menatap ayahnya dengan perasaan yang sangat rumit. Istrinya baru saja meninggal dunia dan belum sempat dimakamkan, tapi Kirana dan ayahnya sudah sibuk dengan pernikahan itu. Di Satu sisi dia masih sangat syok dengan meninggalnya Karina, di sisi lain sang bayi memang sangat membutuhkan perawatan dan kasih sayang seorang ibu.

“Kita bicarakan ini nanti dirumah, tidak pantas kita berbicara ini disini, saat ini. Kita masih dirumah sakit dan Karina baru saja meninggal dunia.” kata Bu Lastri bijaksana. Seketika hati Riko yang panas menjadi dingin.

“Terimakasih Bu. Ibu memang bagaikan malaikat penyelamat untukku. Hanya ibu yang mengerti keadaanku.” Kata Riko dengan rasa sedih yang masih terus bergelayut dengan manja dalam hatinya.

“Baiklah. Kau benar istriku.” kata Pak Hamdan sambil menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya masuk kedalam kamar pasien tempat Kirana, dan sang bayi serta kedua orang tua Karina berada.

“Biarkan Riko sendiri dulu.” sambung Pak Hamdan. Dan Bu Lastri hanya mengangguk sambil tersenyum lemah. Sebenarnya dia pun rapuh, tapi sebagai seorang ibu, dia harus kuat.

Akhirnya tibalah saatnya pemakaman Karina. Semua keluarga ikut mengantarkan Karina ke tempat pemakaman, kecuali Kirana karena dia harus menjaga bayi Karina. Suasana duka di pemakaman sangat terasa menyedihkan. Tidak ada satupun yang tidak menitikkan air mata, betapa tidak, Karina meninggal sebelum dia sempat melihat wajah bayinya.

Dan setelah acara pemakaman selesai, setelah semua pengantar kembali pulang, termasuk Riko dan orang tua serta mertuanya, kembali Riko dihadapkan pada keadaan rumit yang membuatnya merasa jengah.

“Jadi kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?” Tanya Pak Hamdan pada Riko disuatu malam, saat keluarga dari kedua belah pihak sedang berkumpul.

“Terserah Kirana saja.” jawab Riko singkat.

Kirana sedikit cemberut melihat reaksi Riko lalu dia berkata “Kalau kau tidak mau aku tidak akan memaksa.’’

“Sudahlah tentukan saja waktunya tidak usah berdebat.” Jawab Riko sedikit kesal dengan tingkah Kirana.

“Kalau dua minggu lagi bagaimana?” Usul Pak Hamdan yang disambut dengan anggukan orang tua lainnya, sehingga akhirnya semua sepakat, kalau pernikahan akan dilangsungkan 2 minggu lagi dan akan dilaksanakan dengan sederhana saja.

Dua minggu telah berlalu, akhirnya Riko menikahi Kirana. Harus mereka akui, kalau pernikahan ini membuat mereka seperti dua orang yang baru saja kenal. Dan malam harinya, yang seharusnya menjadi malam istimewa untuk mereka, dilalui dengan hal-hal yang tidak berkesan sama sekali. Riko masuk kamar pengantin dan langsung merebahkan tubuhnya dikasur, sedangkan Kirana hanya tiduran di sisinya tanpa berani mengganggu Riko sama sekali.

Hari-hari setelah pernikahan pun masih seperti itu,hingga terjadilah momen spesial yang akhirnya membuat mereka lebih dekat. Saat malam itu si bayi yang diberi nama Ananda Syafira Karina, menangis terus menerus karena ingin tidur di gendongan, sehingga Kirana kelelahan dan menguap terus menerus. Melihat Kirana kelelahan seperti itu, hati Riko pun tergugah. Untuk pertama kalinya Riko memperhatikan Kirana, dia menggantikan Kirana menjaga dan menggendong sang bayi.

Mendapat perhatian seperti itu hati Kirana tiba-tiba menghangat, dan kehangatan itu menular ke dalam hati Riko, dan untuk pertama kalinya Riko menatap wajah Kirana yang mirip dengan istrinya. Mereka pun saling melempar senyum dan tanpa mereka sadari mereka jadi sering bercanda, dan mereka menjadi lebih dekat. Riko meminta maaf pada Kirana atas apa yang dia lakukan.

Sebagai suami dia sangat sadar kalau seharusnya dia tidak bersikap seperti itu. Dan Kirana pun demikian. Hari-hari terus berlalu, hubungan dua insan itu semakin dekat, dan sekarang mereka sudah bisa berdamai dengan keadaan. Mereka pun sudah seperti suami istri pada umumnya yang saling mencintai. Mereka pun sepakat untuk saling memperbaiki keadaan, dan menjadi orangtua yang baik untuk Ananda Syafira Karina, serta untuk anak-anak mereka semuanya.

Tamat

Penulis: Juju Juwita

POST TERKAIT