Hamil Itu Anugerah

Fathnan

Agustus 7, 2025

5
Min Read
hamil itu anugerah

“Kamu sengaja memanas-manasi aku Bunga.” Lagi-lagi ucapan yang disertai prasangka buruk Langit kepada Bunga lolos begitu saja dari mulut Langit. Bunga yang merasa lelah di intimidasi pun mundur teratur. Perlahan-lahan dia menjauh dari Langit. Tak pernah banyak berbicara lagi bila bertemu. Pernah suatu kali Bunga sedang membeli jajanan di depan rumah Langit.

Melihat kakak perempuan Langit membuka pintu rumah Langit, dia bermaksud untuk ikut menunggu di rumah Langit sementara makanan dimasak. Tapi Kakak pertama Langit mengatakan bahwa di dalam rumah tidak ada siapa-siapa. “Langit sedang pergi.” katanya. Bunga hanya tersenyum.

Namun Bunga terlalu pintar untuk dibohongi. Dia memperhatikan semuanya, dan dia tahu dia sedang dibohongi. Dia hanya bisa menerima kebohongan mereka. “Biarlah. Mungkin Langit tidak memperkenankan aku memasuki rumahnya.” Guman Bunga. Kebetulan keesokan harinya adalah hari Ulang Tahun Langit. Dia mengadakan acara syukuran sekaligus acara maulid nabi Muhammad SAW di rumahnya. Bung

Dulu, mereka berdua adalah sahabat karib. Tapi entah kenapa, Langit berubah. Semenjak Langit menjadi adik ipar Bunga, dia sering sekali mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati Bunga.

“Kamu itu bodoh Bunga, kamu tidak akan mengerti. Aku ingin hamil dan ingin punya anak.” Kata Langit.

“Kamu berdoa saja, insha Alloh nanti juga Alloh beri.” Jawab Bunga dengan polos nya.

“Kamu itu susah banget ya diajak mikir. Percuma ngomong sama kamu, kamu ga akan ngerti.” Kata Langit.

“Kamu itu sangat bodoh Bunga, kalau aku hamil dan punya anak, aku bisa menguasai semua harta suami aku, dan aku juga bakal dapat warisan dari mertua aku.” Geram Langit dalam hatinya.

Beberapa bulan dari obrolan itu, Langit benar-benar berubah. Tanpa Bunga sadari, Langit yang sudah berubah secara finansial kini membencinya. Dia sering sekali membicarakan keburukan Bunga pada teman-teman Bunga yang lain.

Atau lebih jelasnya, menghasutnya. Rasa iri karena Bunga sudah hamil dan mempunyai bayi membuat Langit gelap mata. Dia merasa kalah saingan. Padahal Bunga, sedikitpun tidak merasa sedang bersaing.

“Aku ingin kamu mendoakan aku agar segera hamil. Doakan aku dalam mahalul qiyam saat kamu ikut pengajian.” Kata Langit mengintimidasi Bunga. Bunga hanya mengiyakan dan tidak banyak bicara.

Bunga memang sering sekali mendoakan Langit agar ia segera hamil. Tapi yang terjadi selalu sebaliknya. Bunga lah yang hamil, dan ini kehamilan kedua Bunga.

Beberapa bulan berlalu. Setelah Bunga melahirkan anak keduanya, ia didatangi seorang dukun bayi yang mengurus sang bayi. “Neng, mungkin neng ada baju daster yang tangan pendek buat tetangga ibu yang lagi hamil. Dia katanya ga punya baju hamil kasian. Kalau ada kalau boleh mau di minta sama ibu.” Kata dukun bayi itu.

Baca Juga: Gadis dan Bungkus Permen Misterius

“Oh iya bu, nanti saya bilang dulu ya sama sodara, mungkin dia ada, karena kalau punya saya dasternya tangan panjang semua.” Jawab Bunga.

Hari itu juga dia memberanikan diri menulis chat untuk Langit. “Ini kesempatan untuk Langit, kalau dia mau bersedekah, mungkin dia akan hamil.” Gumam Bunga.

Namun yang terjadi, Langit menolak mentah-mentah. Dia tidak mau memberikan baju dasternya dengan alasan bajunya sudah jelek. Dia juga tidak mau membeli daster yang baru, padahal harga daster itu ga seberapa baginya. Intinya dia enggan bersedekah.

“Bersedekah itu harus dari hati. Dan saya tidak mau bersedekah melalui kamu.” Jawab Langit dengan sombongnya.

Tak merasa sakit hati karena sudah terbiasa diperlakukan seperti itu, Bunga menghubungi kakak ipar nya. Dia meminta daster, karena kebetulan kakak ipar nya itu berjualan daster di pasar dekat rumah nya.

“Iya. Nanti dasternya disimpan dirumah ibu. Nanti ambil saja.” Jawab kakak ipar Bunga. Dia bersedia memberikan 2 dasternya.

“Mungkin Belum waktunya Langit hamil. Atau mungkin malah menantu kakak ipar yang hamil nanti.” Gumam Bunga.

Dan ditahun berikutnya benar saja. Menantu kakak ipar nya lah yang hamil. Bunga sangat menyayangkan keadaan itu. “Seandainya Langit mau bersedekah saat itu, mungkin sekarang dia sudah hamil.” Gumam Bunga.

Dan beberapa bulan kemudian, kembali Bunga hamil yang ketiga. Kali ini bukan hanya Langit yang marah, tapi juga mertua dan kakak ipar perempuan Bunga serta para tetangga Langit. “Terus saja kamu yang hamil.” Kata mertua Bunga. Bunga hanya tersenyum dan mengucapkan “Alhamdulillah.”

Beberapa bulan kemudian, selesai persalinan Bunga, tidak ada satupun keluarga suaminya yang menjenguk sang bayi. Bunga tidak bersedih, apalagi menangis karena dia yakin itu adalah rezekinya. “Rezeki itu tidak akan tertukar.

Meskipun saya tidak hamil, kalau Alloh belum memperkenankan Langit untuk hamil, maka itulah yang terjadi. Hamil bukan untuk saingan. Itu adalah anugerah. Kalau sekarang mereka marah hanya karena saya hamil, itu artinya mereka tidak mengerti.” Gumam Bunga.

Suami Bunga hanya berkata. “Mungkin mereka merasa lelah harus menengok bayi kita terus. Tidak perlu bersedih, yang penting anak-anak kita sehat dan rezekinya lancar.” Ucapnya sambil mengelus lembut kepala bayinya.

Kehidupan terus berlanjut. Hari demi hari akhirnya para tetangga yang awalnya membenci Bunga karena dianggap selalu memanas-manasi Langit, kini mereka sadar. Hamil bukanlah saingan, tapi itu adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa.

Sikap mereka sudah tidak sinis dan tidak ketus lagi kepada Bunga. Begitu juga dengan keluarga suami Bunga.

Namun Langit, masih belum bisa menerimanya. Dia masih memusuhi Bunga. Dan Bunga, sekarang dia sudah menjadi ibu yang super sibuk mengurusi 4 anak laki-laki dan 1 anak perempuannya. Dia sudah tidak mempunyai waktu untuk memikirkan, apalagi mengurusi keinginan Langit.

Dia sudah bisa menerima sikap Langit yang membencinya. Dan dia bilang “Repot ngebenci aku mah, aku nya juga ga peduli. Sibuk akunya sekarang mah. Biarin aja dia mau benci atau gimana. Itu mah urusan dia sama hatinya dia. Bukan urusan Aku.” Gumamnya saat nyusuin bayi perempuannya sambil scroll medsos di suatu malam.

Sedangkan Langit, saat ini dia sedang marah-marah dan menangis. Entah karena dia sadar bahwa hamil itu bukan untuk saingan, entah pula menangis karena ternyata hartanya tidak bisa membeli segala sesuatu yang dia inginkan.

Tamat.

Penulis: Juju Juwita
Editor: Fathnan

POST TERKAIT