Dokter Psikopat

Fathnan

Desember 6, 2025

7
Min Read
dokter pesikopat

Cerpenin.com – “Jadi begini rasanya cairan itu. Sekarang aku ingin mencoba merasakan cairan otak bayi, apakah rasanya lebih lezat, atau sebaliknya? Hmmm…sepertinya menarik.” Gumam dr.Eren.Sp.BS. Seorang dokter spesialis bedah saraf yang meraih gelarnya di usia yang sangat dini. 24 tahun 6 bulan. Usia yang wow untuk seseorang bisa mencapai gelar dokter spesialis bedah saraf.

“Permisi dok, ada pasien IGD. Seorang bayi perempuan baru berusia 5 bulan. Dia jatuh,, luka di kepala bagian belakang nya sangat dalam dan lebar.” lapor seorang perawat kepada dr.Eren.

Dokter Eren dengan cekatan langsung menanggapi dan memeriksa pasien itu. “Ibu, luka di kepala dede nya harus segera ditangani. Jika ibu bersedia, operasi bedah kepala dede akan dilaksanakan secepatnya.” Kata dr. Eren kepada Halimah, ibu sang bayi.

Halimah yang terkejut tidak langsung mengiyakan, ia perlu berdiskusi bersama suami dan keluarganya. Bukan hanya masalah biaya, tapi hati Halimah mengatakan tidak.

Singkat cerita, setelah berdiskusi panjang lebar dengan suami dan keluarganya, Halimah memutuskan tidak akan memberikan izin untuk operasi bedah kepala itu. Ia bersikeras ingin membawa bayinya pulang secepatnya. “Entah kenapa hati ini merasa tidak tenang.” Katanya pada sang suami yang bernama Hadi.

Hadi pun merasa demikian. Ia merasa ada hal yang janggal menggelayut manja di hati dan pikiran nya. Setali tiga uang dengan istrinya, ia pun ingin segera membawa pulang bayinya, namun yang mengherankan adalah izin itu sangat sulit di dapat. dr. Eren sedikit memaksakan kehendaknya untuk membedah kepala bayi itu.

Suatu malam saat hujan turun dengan deras, tiba-tiba lampu di ruangan tempat bayi itu dirawat mati. Halimah dan Hadi yang mengira bahwa hal itu karena hujan yang deras dan mengakibatkan gangguan listrik hanya menyalakan senter handphone nya sebagai penerang. Namun saat lampu kembali menyala, mereka terkejut luar biasa, karena bayi mereka tidak berada ditempat yang seharusnya. Mereka yang panik, langsung menghampiri perawat dan satpam rumah sakit untuk menanyakan keberadaan bayi mereka.

Semua panik. Cctv lorong tidak bekerja dengan baik, alhasil, semuanya bingung, pasalnya satpam sudah mencari-cari keberadaan sang bayi di seluruh area rumah sakit. Satpam diluar pun, tidak menemukan seseorang yang mencurigakan. Hingga akhirnya Halimah dan Hadi melaporkan kejadian itu kepada polisi.

Polisi langsung melakukan olah tkp. Semua yang terlibat dalam pemeriksaan bayi itu di bawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan, termasuk dr. Eren.

Polisi yang merasa ada yang janggal dengan keterangan dr.Eren, meminta bantuan pakar bahasa tubuh.

dr. Eren kembali mendapatkan panggilan dari polisi untuk dimintai keterangan, kali ini, polisi didampingi pakar bahasa tubuh yang menyamar sebagai polisi. dr. Eren yang tidak mengetahui hal itu, menyangka bahwa polisi itu bisa dibohongi nya. Dia tertawa dalam hati. Hal itu terekam dengan jelas dan dipaparkan sang pakar di hadapan polisi ketika dr.Eren sudah selesai di mintai keterangan.

Dari keterangan pakar bahasa tubuh, polisi menyimpulkan bahwa pelaku penculikan bayi malang tersebut adalah dr. Eren. Ia kembali diperiksa polisi secara intensif dan pemeriksaan dilanjutkan ke kediaman dr. Eren di salah satu perumahan elite di kota metropolitan itu.

dr. Eren yang merasa kaget dirinya beralih status dari saksi menjadi tersangka, tidak sempat menyembunyikan bukti-bukti berupa cairan otak pasien miliknya di ruang pribadi nya.

Polisi yang menemukan bukti-bukti itu langsung membawanya ke kantor polisi untuk diperiksa lebih lanjut. Begitu juga dengan dr. Eren sendiri, ia langsung dijebloskan ke dalam penjara. Kasus ini langsung mencuat di beberapa media, baik media elektronik maupun media sosial. dr. Eren dinyatakan bersalah karena terbukti telah menyalahgunakan profesi dan jabatan nya. Hanya saja untuk kasus penculikan bayi itu, polisi masih belum bisa menemukan titik terang, pasalnya karena dr. Eren memang tidak terbukti menculik bayi tersebut.

Orang tua sang bayi yang sudah putus asa karena masih belum ada kejelasan tentang bayinya, tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan dua orang lelaki dan satu orang perempuan yang mendatangi rumah nya. Kedatangan mereka untuk meminta maaf karena telah mengambil bayi mereka tanpa izin. Mereka mengaku melakukan hal itu untuk menyelamatkan sang bayi dari dr. Eren yang menginginkan bayi tersebut.

“Kami meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Bu Halimah dan Pak Hadi. Kami berjanji akan mempertemukan Elsa dengan kalian.” Tutur lembut Awan. Tepatnya dr.Awan. Ia adalah dokter senior di rumah sakit tempat dr.Eren bekerja. Ia mengetahui gelagat buruk dr. Eren saat satu ruangan dengannya, ketika mengoperasi seorang pasien wanita muda yang mengalami cedera di bagian punggung karena terjatuh dari tangga.

“Jika kami tidak seperti ini, kami khawatir Elsa jadi korban kekejaman dr. Eren Bu, kasihan, dia masih bayi. Akibat dari pengambilan cairan otak itu sangat beresiko. Bisa-bisa Elsa jadi, maaf… idiot.. bahkan untuk seumur hidupnya.” Tambah dr. Rega.

Bu Halimah dan Pak Hadi yang merasa anaknya telah selamat dari musibah luar biasa mengucapkan banyak terima kasih kepada mereka.

Baca Juga: Saputangan Merah Jambu

“Terima kasih dr. Awan, dr. Rega, dan miss Reina. Kalau boleh saya tahu, dimana Elsa sekarang berada?” Jawab Bu Halimah dengan air mata yang mengalir dengan deras.

“Dia ada di Bogor Bu, dirumah orangtua saya.” Kata miss Reina. Perawat yang menangani Elsa saat dirumah sakit. Dan dia lah yang membawa Elsa dari ruang perawatan, atas perintah dr. Awan. Dibantu oleh dr. Rega, mereka bekerja sama dengan rapi untuk menyelamatkan Elsa dan juga menjebak dr.Eren.

Singkat cerita mereka berlima akan pergi menjemput Elsa di kota hujan, Bogor.

Saat mereka baru berdiri dari tempat duduk mereka masing-masing, tiba-tiba seseorang tertawa terbahak-bahak sambil tepuk tangan.
“Hahaha… aku sudah tahu kalau ini adalah ulah kalian. Hebat. Hebat. Hahaha…” Katanya dengan ekspresi wajah yang datar dan dingin.

“dr.Eren” kata mereka semua hampir bersamaan.
“Bagaimana mungkin, bukankah ia ditangkap polisi?” Gumam miss Reina.

Dokter Eren terus saja tertawa terbahak-bahak. “Polisi-polisi itu bodoh.” Katanya sambil mengedarkan pandangannya.

Namun tiba-tiba polisi datang dari berbagai arah dengan membawa senjata lengkap. “dr.Eren Menyerahlah.” Kata Komandan polisi.

Dokter Eren kembali mengedarkan pandangannya, lalu dengan gerakan secepat kilat, ia mengeluarkan pisau belati dan menghujamkan nya ke perut miss Reina. “Ini hadiah untukmu perawat kurang ajar.” Katanya sambil tersenyum dengan ekspresi wajah datar dan dingin.

Semua berteriak panik. Salah satu polisi yang merasa sangat geram, melepaskan sebuah tembakan ke arah dada dokter jahat itu. Tembakan itu tepat sasaran, namun yang terjadi diluar dugaan, ternyata dr.Eren sudah melengkapi dirinya dengan menggunakan baju anti peluru.

“Dasar wanita biadab.” Geram dr.Awan sambil menyerang dr.Eren. Perhelatan pun terjadi. dr.Awan yang seorang ahli silat bertarung menggunakan tangan kosong melawan dr.Eren yang jago karate.

Perbedaan kualitas tenaga dan kontrol emosi menjadi penentu. dr.Awan yang terlihat lebih unggul akhirnya bisa melumpuhkan dr.Eren. Namun sayang, dr.Eren lebih memilih mati dengan cara memotong lehernya sendiri dengan menggunakan pisau belati yang ia selipkan di pinggangnya. Semua orang menahan nafas dan menutup mata melihat adegan mengerikan itu.

Polisi membawa jenazah dr.Eren dan miss Reina ke rumah sakit terdekat. Sedangkan Bu Halimah dan Pak Hadi serta 2 dokter baik hati itu langsung meneruskan niat mereka untuk menemui Elsa sekaligus mengabarkan berita duka ini kepada orang tua miss Reina. Berat memang, tapi apa boleh buat, semua sudah terjadi.

Saat tiba di kediaman orang tua miss Reina, setelah dr.Awan menceritakan kejadian itu kepada orangtua miss Reina, ibu miss Reina yang tak kuasa menahan duka atas kematian miss Reina yang tragis, langsung tak sadarkan diri. Nasib baik sang ayah miss Reina bisa membesarkan hati istrinya dan menghiburnya. Kebahagiaan orang tua Elsa yang bisa berkumpul kembali dengan anaknya, menjadi terasa hambar karena bercampur dengan duka cita yang mendalam atas kematian miss Reina. Bagaimana pun, mereka sadar, miss Reina lah yang telah menyelamatkan anak mereka. Tanpanya mungkin saat ini Elsa sudah menjadi korban kebiadaban dr.Eren.

Setelah semuanya tenang, mereka kembali berangkat menuju kota metropolitan untuk mengurus kepulangan jenazah miss Reina.

Singkat cerita, kepulangan jenazah miss Reina berlangsung dengan lancar. Miss Reina dimakamkan di kota kelahiran nya, Kota Bogor. Begitu juga dengan dr.Eren, ia sudah dimakamkan oleh keluarga besar nya di tempat kelahirannya, kota Cianjur. Semua keluarga dan sanak saudara serta tetangga sangat menyayangkan, atas apa yang terjadi pada dr.Eren. Mereka bertanya-tanya, kenapa dr.Eren yang mereka kenal sangat baik hati dan penyayang, berubah menjadi seorang yang tidak mempunyai empati seperti itu. Mungkinkah hal itu bisa terjadi karena pergaulan yang salah? atau pula karena dia terlalu sering memikirkan sesuatu yang tidak-tidak? Entahlah, semua masih abu-abu dan tidak ada yang tahu jawabannya.

Tamat.

Penulis: Juju Juwita
Editor: Fathnan

POST TERKAIT