Karma Pelakor

Fathnan

Juli 15, 2025

5
Min Read
karma pelakor

Rosa dikenal sebagai perempuan berkelas. Cantik, modis, dan penuh percaya diri. Media sosialnya dipenuhi foto-foto estetik di café-café mahal, outfit terkini, dan kutipan bijak tentang cinta dan kehidupan.

Namun dibalik itu semua, Rosa memiliki sebuah rahasia. Ia menjalin hubungan dengan seorang pria beristri. Pria itu bernama Ragil, seorang pengusaha sukses berumur 45 tahun. Ia tampan untuk seusianya, punya jabatan, uang, dan yang paling penting: selalu memperlakukan Rosa bak ratu.

“Ragil berbeda dari laki-laki seusianya,” gumam Rosa pada temannya. “Dia perhatian, dewasa, dan… tahu caranya memanjakan perempuan.” Sambungnya sambil tersenyum.

Temannya hanya mengangguk, tak berani menegur. Semua tahu siapa Ragil. Semua tahu ia suami dari Lestari, wanita sederhana yang setia dan dikenal sebagai ibu rumah tangga yang kalem dan bersahaja. Tapi Rosa merasa tidak bersalah. “Kalau rumah tangganya bahagia, Ragil tidak akan lari ke pangkuanku,” katanya pada suatu malam dengan bangga.

Namun, ternyata Lestari bukan perempuan lemah seperti yang Rosa kira.

Lestari sudah lama curiga. Suaminya yang selalu pulang semakin malam, ponsel yang tak pernah lepas dari genggaman, dan bau parfum wanita di kerah bajunya adalah berbagai hal yang tidak bisa terus diabaikan.

Ia tidak marah, ia juga tidak menangis. Ia hanya diam dan mengamati. Hingga pada suatu malam, ia menemukan foto suaminya sedang makan malam dengan Rosa, viral di akun gosip. Hatinya runtuh, tapi wajahnya tetap datar.

“Mau dibawa kemana rumah tangga ini?” lirihnya sambil menatap wajah suaminya yang tertidur lelap.

Lestari mencoba bicara baik-baik. Tapi Ragil justru menuduhnya posesif, tidak percaya diri, dan terlalu mengekang. “Aku capek dengan kamu yang selalu mengekangku. Rosa beda. Dia ngerti aku!”

Perkataan itu menjadi paku terakhir di hatinya. Ia tidak menangis. Ia hanya diam, bangkit, dan malam itu juga ia mengemasi sebagian pakaiannya.

Namun sebelum pergi, Lestari mengambil satu langkah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia naik angkot menuju desa di pinggiran kota, lalu berjalan kaki ke sebuah rumah tua yang tersembunyi di balik pohon-pohon besar. Rumah milik Mbah Saripah, dukun tua yang dikenal sakti namun tertutup.

“Aku tidak ingin dia mati, Mbah,” ucap Lestari. Mbah Saripah menatap wajah Lestari yang pucat karena letih dan luka hati. “Tapi kau ingin dia merasakan sakit yang kau rasakan?” tanya mbah Saripah. Lestari mengangguk pelan.

“Baik. Tapi ingat, anakku… apa yang kita kirim ke orang lain, bisa berbalik kalau hatimu tak benar-benar tulus.” ucap Mbah Saripah.

Baca Juga: Siti Aminah (Candaan Jadi Kenyataan)

Lestari hanya menunduk sambil berkata “Aku hanya ingin dia menjauh. Aku hanya ingin keluargaku kembali utuh.”

Malam itu, Mbah Saripah membakar kemenyan, membaca mantra dalam bahasa yang tak Lestari mengerti, dan mencelupkan foto Rosa ke dalam air kembang yang kemudian berubah warna. Lestari pulang dengan hati campur aduk, antara ragu dan pasrah.

Sementara itu, Rosa mulai mengalami gangguan-gangguan yang aneh dan tidak dapat dimengerti olehnya. Awalnya, hanya mimpi buruk. Ia melihat sosok perempuan berambut panjang dengan mata merah, menatapnya tanpa bicara. Kemudian, mimpi itu berulang. Tiap malam, tiap kali ia menutup mata.

“Kayaknya aku stress,” katanya sambil tertawa ke followers-nya dalam live Instagram.

Namun, gelak tawa itu berubah jadi jeritan pada malam keempat. Ia melihat bayangan wanita berkebaya merah di pojok kamarnya, tersenyum sinis sambil menggerakkan bibirnya tanpa suara. Tubuh Rosa bergetar hebat, giginya gemeletuk, dan tiba-tiba hidungnya mengucurkan darah.

Live itu mendadak berhenti. Tapi sudah cukup banyak orang melihat dan menyimpan rekamannya.

Esok paginya, kabar itu viral: “Selebgram Pelakor Kesurupan Saat Live, Warganet Sebut Karma”

Rosa dilarikan ke rumah sakit, tapi dokter tidak menemukan penyebab jelasnya. Ia lalu dibawa ke seorang ustadz, yang saat membacakan ayat-ayat ruqyah, tubuh Rosa mendadak kerasukan.

“Aku bukan milikmu!” teriaknya dengan suara berat. “Kau merusak rumah tangganya! Sekarang kubuat kau merasa seperti dia!”

Semua orang yang hadir terpana. Setelah sadar, Rosa menangis tak henti-henti.

“Saya salah… saya ingin bertobat… saya ingin minta maaf…” kata Rossa sambil menangis pilu.

Malam itu juga, Rosa menghapus semua foto bersama Ragil. Ia menghubungi Lestari lewat DM, mengetik pesan yang panjang.

“Saya tahu saya salah, saya tidak ingin merebut kebahagiaan orang lain lagi. Maafkan saya, Bu. Saya minta ampun. Tolong doakan saya agar sembuh.”

Lestari membaca pesan itu dengan tenang. Ia membalas:

“Maafku bukan untuk kamu dapatkan. Tapi untuk aku yang ingin hidup tenang.”

Beberapa hari kemudian Ragil mendatangi Rosa yang sudah lemah dan pucat. “Aku akan tetap bersamamu, Rosa…” Kata Ragil.

Namun Rosa menolak dengan tangisan. “Aku nggak sanggup… aku nggak mau diganggu lagi… aku sudah cukup. Mas Ragil, Pulanglah… pulanglah ke keluargamu…aku tidak mau seperti ini terus menerus”

Ragil terpukul. Ia pulang dalam kehampaan, dan ketika masuk rumah, Lestari menatapnya sejenak lalu pergi ke kamar tanpa bicara.

Rumah tangga mereka memang masih utuh, tapi hati Lestari sudah mulai berbenah, bukan untuk Ragil, tapi untuk dirinya sendiri. Ia mulai berani hidup untuk dirinya, belajar, membuka usaha kecil, dan menata ulang masa depan.

Sementara Rosa meninggalkan dunia glamornya. Ia pindah ke kampung ibunya, hidup sederhana, dan sering ikut pengajian. Bekas luka gaib itu memang perlahan menghilang, tapi bayangannya masih sesekali hadir.

Hingga suatu malam, saat mendengar suara adzan dari mushola kecil di desa, Rosa menatap langit dan berbisik:

“Ya Allah, andai dulu aku tak menyengsarakan hidup orang lain dan tidak menyakiti hatinya… mungkin aku tak akan sesesat ini… tapi kini aku tahu, cinta yang merusak rumah tangga orang lain…itu bukanlah cinta. Tapi kezaliman…”

Dan di rumah kecilnya,, Lestari menatap foto anak-anaknya, lalu tersenyum kecil. Ia tahu luka hatinya mungkin tak akan hilang seluruhnya, tapi ia juga tahu: Tuhan tak pernah tidur.

Dan Ragil, dia sudah menyadari kesalahannya dan sekarang dia menjadi lebih pendiam, dan berfikir berulang kali untuk melakukan kesalahan yang sama.

Tamat.

Penulis: Juju Juwita
Editor: Fathnan

POST TERKAIT