“Ampun Minah!”
Itu adalah kalimat khas Rina sejak SMA. Kalimat andalannya setiap kali ia terjebak dalam situasi lucu, memalukan, atau ketika melihat tingkah teman-temannya yang konyol. Saat kaget pun, yang keluar bukan “ya ampun”, bukan juga “ya Allah”, tapi…
“Ampun Minah!”
Satu kelas sudah hafal dengan kebiasaan Rina berkata seperti itu. Bahkan guru-guru pun sangat tahu, kalau suara tawa di pojok belakang kelas yang kemudian disambung dengan kalimat itu, sudah pasti Rinalah dalangnya.
“Minah itu siapa sih, Rin?” tanya Tika, sahabat sebangkunya pada suatu waktu saat istirahat di kelas.
Rina hanya mengangkat bahu sambil terkekeh. Dia terdiam seolah-olah sedang mengingat-ngingat sesuatu. Dengan ekspresi yang susah dimengerti dia berkata “Enggak tahu, Tik. Namanya ngalir aja gitu. Kayak udah nyatu di lidah. Lucu aja. Kayak nama emak-emak galak di sinetron, tahu gak?”
Seisi kelas tertawa, semua teman-teman Rina memanggilnya dengan sebutan si Ratu Ampun Minah. Bahkan saat reuni sepuluh tahun kemudian pun, ada saja yang masih memanggil dia dengan julukan seperti itu.
Setelah lulus kuliah, Rina bekerja disebuah perusahaan teknologi sebagai staf administrasi. Di sanalah dia bertemu dengan seorang lelaki bernama Fikri. Dia laki-laki yang sangat santai, pendiam, dan hobi olahraga. Sifatnya berkebalikan dengan Rina yang rame, ceplas-ceplos, dan males banget olahraga.
Entah bagaimana ceritanya,dua orang yang berbeda sifat itu malah saling menyukai saat pertama kali mereka berkenalan hingga akhirnya mereka pacaran.
“Kamu itu kayak… AC. Adem. Tapi kadang bikin kepala dingin banget,” ujar Rina saat mereka sudah mulai pacaran.
Fikri cuma senyum, khas senyum lelaki yang hemat kata. “Dan kamu itu rame banget ya, kaya emak-emak yang suka kumpul-kumpul buat arisan, atau nganter anak sekolah.” jawab Fikri apa adanya. Kemudian mereka berdua tertawa, karena ternyata mereka sudah saling mengetahui sifat masing-masing.
Tapi satu hal yang membuat Rina yakin, Fikri menerima dirinya apa adanya—termasuk kelakuan hebohnya dan kebiasaannya berteriak, “Ampun Minah!” di momen-momen tak terduga.
Mereka menikah di usia yang sudah matang. Bukan pernikahan mewah ala artis TikTok, tapi cukup hangat dengan tawa dan haru yang tulus dari kedua mempelai, keluarga dan teman-teman mereka.
Di hari pernikahan pun, saat Rina salah masuk kamar rias dan nyaris menabrak fotografer, dia sempat berteriak “Ampun Minah, ini kamar siapa?!” membuat semua orang tertawa. Bahkan MC acara pernikahan itu pun sempat mengulang kalimat itu di akhir acara sebagai bahan candaan.
Beberapa bulan setelah mereka menikah, Rina hamil. Kehamilan pertamanya membuat dia lebih tenang karena dia merasa dirinya harus santai dan tidak boleh terlalu heboh. tapi tetap saja dia tidak bisa sepenuhnya diam seperti perempuan anggun pada umumnya. Dan dia mulai iseng mencari nama yang sesuai untuk calon bayinya.
“Kalau perempuan, namanya siapa ya?” gumamnya sambil ngemil buah semangka yang segar saat siang hari.
“Bebas, terserah kamu saja,” sahut Fikri santai.
Rina menatap langit-langit, lalu terkekeh sendiri. “Gimana kalau… namanya Siti Aminah?”
Fikri menoleh. “Serius?”
“Yap. Aku suka aja. Lembut. Anggun. Dan… sekalian nostalgia. Kan aku dulu sering bilang ‘Ampun Minah’? Sekarang punya anak beneran yang namanya Minah. Lucu juga iya nggak?” ucapnya sambil tertawa.
Fikri menutup wajah dengan tangan. “Jadi anak kita hasil candaan kamu dulu gitu?”
“Bisa dibilang, iya,” kata Rina bangga. “Tapi serius, ini nama yang indah. Ibu Nabi Muhammad juga namanya Siti Aminah kan, dan aku berharap anak keturunan aku bisa menjadi teladan yang baik seperti nabi Muhammad saw.” ucap nya kemudian. Dan setelah mendengar alasan istri periangnya itu, Fikri menyetujui nama itu. “Siti Aminah, nama yang indah juga,memang nama yang patut dikenang oleh semua orang.” gumamnya sambil tersenyum.
Setelah beberapa bulan kemudian, Rina melahirkan. Ditemani suaminya, Fikri dan juga Bu Hana, ibunya Rina, Rina berjuang untuk melahirkan anaknya. Tak lama kemudian dia melahirkan seorang bayi yang sangat imut dan lucu serta cantik, perpaduan khas wajah Rina dan Fikri. Bayi perempuan mungil, dengan pipi tembem, kulit bersih, dan suara tangis kencang. Setelah di adzani diberilah bayi itu nama:
“SITI AMINAH.” Semua yang hadir dari kedua belah pihak keluarga merasa sangat bahagia.
Baca Juga: Status Religius Musik Dangdut Koplo
Setelah pulang dari rumah bersalin, semua teman Rina langsung menggodanya lewat grup WhatsApp.
Dan beberapa hari kemudian, mereka datang untuk melihat bayi mungil Rina. Begitupun dengan teman-teman Fikri, mereka tak kalah serunya menggoda Fikri karena kelucuan Siti Aminah. Baik dari nama nya dan juga wajahnya yang cantik.
“Rin… akhirnya ‘Ampun Minah’ jadi kenyataan ya?”
“Jadi sekarang beneran kamu bisa bilang, ‘Ampun Minah, jangan nangis terus dong!’”
“Eh, Ratu Ampun Minah, salam buat Princess Minah ya!” seru teman-teman Rina dan Fikri.
Rina tertawa sambil menyusui anaknya. Dalam hati, ia mengakui, hidup memang aneh. Dulu ‘Ampun Minah’ hanya pelarian ekspresi, kini berubah menjadi kenyataan paling lucu dan manis.
Minah kecil tumbuh aktif dan ceriwis. Sifatnya… yah, lebih mirip ibunya.
Saat berumur 3 tahun, Minah mulai menunjukkan sisi jahilnya. Suatu hari, dia menempelkan permen karet ke bantal tamu.
“Astagfirullohaladziim Minah… Ampun Minah!!!” teriak Rina panik, sambil mencoba melepaskan permen yang sudah lengket dan berbulu debu.
Fikri yang lewat cuma geleng-geleng kepala. “Dulu ibu nya cerewet. Sekarang anaknya nambah kerjaan.” gumamnya.
“Makanya, dulu jangan terlalu nyantai pas milih nama. Biar dapet anak kalem, kasih nama Lembayung atau Damai gitu..hahaha” canda Rina sambil tertawa terbahak-bahak.
“Eh, jangan gitu. Minah itu nama penuh makna kan. Dan Aku sangat suka nama itu” timpal Fikri
Ketika Minah mulai masuk TK, ia mulai sadar bahwa namanya sering dijadikan bahan tawa atau gurauan orang-orang yang ia kenal. Orang tuanya, kakek nenek nya, tetangga bahkan teman-teman orang tua nya, sering bercanda memakai namanya.
“Bunda, temanku bilang ‘Ampun Minah’ terus, sambil ketawa. Kenapa sih semua orang suka bilang begitu? Padahal kan kadang Aminah ga nakal.”
Rina terdiam. Ia menggendong anaknya ke pangkuannya lalu menceritakan kisahnya.
“Nak… itu karena dulu, sebelum kamu lahir, Bunda sering bilang begitu saat Bunda tertawa bareng teman-teman Bunda. Tapi sekarang, Bunda enggak cuma bilang itu buat bercanda… tapi juga buat sayang-sayang kamu, dan nama itu adalah nama pilihan. Apa kamu tahu sayang, Siti Aminah itu kan nama ibunya nabi Muhammad SAW, Ayah dan Bunda sangat berharap kalau kelak nanti Aminah sudah punya anak dan cucu, anak dan cucu-cucu Aminah menjadi suri teladan untuk sesama.” papar Rina
Minah memiringkan kepala. “Sayang?”
“Iya. Kalau kamu nakal, Bunda bilang ‘Ampun Minah’ supaya kamu sadar. Kalau kamu bikin ulah, Bunda ngomel sambil bilang ‘Ampun Minah’ biar nggak marah banget. Jadi itu semacam doa juga. Biar kamu jadi anak baik yang bikin Bunda bangga.”
Minah tersenyum polos. “Aku sayang Bunda juga.”
Rina mencubit gemas pipi anaknya. Dalam hati, ia merasa bersyukur. Nama yang dulu lahir dari kelakar, ternyata membawa banyak tawa, kasih sayang, dan kehangatan.
Kini, Aminah sudah beranjak remaja. Meski ia kadang malu karena namanya sering dipakai ibunya buat bercanda, tapi jauh di lubuk hatinya ia tahu: namanya bukan sekadar nama.
Itu adalah lambang tawa masa muda ibunya, kenangan hangat persahabatan,harapan dan sekarang… jadi bagian dari perjalanan hidup yang paling berharga.
Dan Rina?
Ia masih sering tertawa sendiri setiap kali melihat kelakuan putrinya.
“Ampun Minah… kamu itu emang reinkarnasi Bunda, ya? Gumam nya.
Tamat.
Penulis: Juju Juwita
Editor: Fathnan









