Cerpenin.com – Malam itu, lampu neon toko serba ada di pojok gang menyala temaram, menciptakan bayangan panjang di trotoar. Di sana berdiri Nisa, gadis perokok yang katanya cantik tapi susah berkawan, mungkin karena alis mata yang terlalu tebal atau karena tingkahnya yang selalu terlihat sinis. Malam ini, dia sedang jalan kaki sambil ngerumpi via chat dengan sahabatnya, Rin, soal kehidupan galau yang sudah seperti sinetron.
“Kalau hidup ini drama, aku bagian pembantu ya.” Ketiknya. “Goblok, lo Cuma belum nemu yang bikin lo jadi heroine,” balas Rin. Nisa melempat pandangan ke toko serba ada itu. Perutnya tiba-tiba laper, begitu laper sampai bisa makan satu jendela makanan sedap malam kalau ada sayangnya, hidupnya belum amanah untuk beli nasi hangat. Jadi, dia putuskan masuk, berharap menemukan sekantong permen atau dua keping cokelat bikin senyum.
Begitu masuk, suara lonceng pintu berbunyi palsu, toko ini punya lonceng tua yang sudah kopong suaranya. Banyak snack murah meriah dan permen Brasil yang jatuh harga. Tangannya berhenti di bungkus permen hitam gelap bertulis “Arcadia’s Secret”. Sekilas seperti permen mint premium mahal, tapi harganya hanya dua ribu lima ratus rupiah. Penasaran, dia masukin ke keranjang.
“Mana ya, bungkusnya luar biasa” gumamnya sambil bayar ke mbak kasir pendiam yanng cuma nyengir tipis.
Keluar toko, Nisa buka bungkus. Bentuknya kecil, agak mirip replika batu onyx, licin dan bersinar di lampu di jalan. Dia makan satu, wooow. Rasanya aneh: mint dingin, tapi tiba-tiba ada sensasi jeruk nipis hangat, lalu pecah dengan rasa manis seperti dodol lembut. Nisa tercekat. “ Wah, gila enaknya!” katanya dalam ahti seliweran emot emotikon di otaknya.
Dari kejauhan, sepasang mata mengerling. “Lho, kamu beli Arcadia’s Secret?“ suara bernada bingung. Ternyata itu Aldi, tetangga kos sebelah; cowok ganteng, anak sastra yang hobinya baca puisi sambil minum teh hijau. Nisa dan Aldi tak pernah benar-benar akrab, mereka hanya saling “sapa bopong” setiap ketemu.
“iya, itu permen baru, coba deh” sahur Nisa sambil tawarin bungkusnya. Aldi maju, ambil satu, lalu cium baunya seperti polisi bau parfum. Matanya melebar saat masukin ke mulut.
“Hemm, ini permen rasa.. rasa.. ajaib ya.” Aldi terdiam sejenak, “Rasa nostalgia musim kanak-kanak.”
Nisa nyengir, “iya, kayak kamu lagi ingat masa indah, gitu.” Percakapan kecil di trotoar itu mungkin hanya beberapa menit, tapi tiba-tiba dunia mereka jadi lebih teranng. Entah kenapa bungkus permen itu menghadirkan nuansa hangat, seolah masa lalu yang lucu sekaligus penuh harapan. Mereka diem berdua, memendam rasa ingin ngobrol lebih.
“Hari gini, jarang banget nih ada yang seenak ini,” kata Aldi tiba-tiba. “Lo.. mau nggak duduk di dekat tukang kacang rebus dulu?” Nisa mengangguk. Mereka ke pinggir jalan, duduk di atas kursi plastik warung kacang, meski gak pesen apa apa, tapi kacang rebus wanginya menyambut, membuat suasana makin ramah.
Baca Juga: Karma Pelakor
Obrolan mereka ringan; dari tugas kuliah yang ditunda, doa nonton drama Korea sampai jam tiga dini hari, sampai kenangan kecil saat ngumpet-ngumpet main layangan sepulang mengaji TPQ. Setiap cerita jadi hidup saat dibumbui tawa dan permen “ajaib” itu.
Malam terus melaju, tapi trotoar gang itu terasa seperti taman nostalgai. Dua keping permen tandas, tapoi obrolan mereka semaking semangat. Mereka saling curhat soal sakit hari, mimpi-mimpi kecil, ketakutan, rencan setelah lulus. Suara mereka pelan, tapi setiap kata ada kepedulian. Tidak terasa sudah semakin larut, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali. Saat hendak pulang, Aldi melirik Nisa. “Permen itu.. bikin obrolan kita terasa beda.” Senyumnya simpul.
Nisa menimpali, “iya. Kayak mood swing ke arah yang lebih baik.”
Mereka balik ke kosasn masing-masing. Tapi sebelum berpisah, Aldi tanya, “Kamu, besok mau ke kafe buku? Ada acara puisi jam 6 sore. “Nisa merenung sebentar. Dia buka tipe acara sosial, tapi.. “Ok,” kata singkat, tapi di dalamnya ada harapan kecil yang tumbuh.
Esok harinya, di kafe buku remang-remang yang dipebuhi rak-rak kayu tua, Nisa duduk di pojok, secangkir teh hangat di tangan. Aldi muncul dengan buku puisi, rambut agak acak, wajah yang tenang. Acara dimulai: pembacaan puisi, tepuk tangan kecul, suara gitar akustik. Suasana yang hangat. Nisa menikmati suara denting gotar dan aroma kopi yang samar di udara. Tapi yang membuat hatinya berbunga, Aldi duduk di sampingnya, membisik hal hal seperti:
“Puisi ini bikin aku inget masa SD.”
“Yang kamu ceritain kemarin lucu banget!”
Seperti sinergi manis, momen-momen kecil itu terasa berarti. Dua hati yang sebelumnya asing, sekarang seeprti sudah menyambung. Dan semua diawali dari.. bungkus permen misterius yang hanrganya murah tapi efeknya juara.
Beberpa minggu kemudian, toko serba ada itu kehabisan Arcadia’s Secret. Nisa pusing, menanyakan ke kasir dan pemilik, tapi gak ada info kapan restock lagi, bahkan rasa permen pun misterius.
Tapi Nisa dan Aldi tidak kecewa. Rasa kekaguman dan kehangatan yang tercipta bukan datang dari permen, melainkan dari kesempatan berkenalan dan keberanian share momen kecil.
Kini, setiap malam mereka punya rutinitas baru: jalan-jalan ke toko, berspekulasi rasa permen, andai suatu hari permen itu kembali, mereka akan beli dua tas besar. Tapi kalau nggak, toh cerita mereka sudah manis tanpa permen. Dan kalau kau melewati trotoar gang itu, kau mungkin melihat dua sosok: gadis alis tebal dan cowok sastra, menyalami langit senja, seperti menjanjikan bab selanjutnya dalam cerita yang mereka tulis bersama.









