Keluarga Awalan Huruf “R”

Fathnan

Juli 1, 2025

5
Min Read
keluarga awalan huruf r

Cerpenin.com – Usia Pak Roni sudah 45 tahun. Rambutnya mulai memutih, bukan hanya karena umur, tapi karena rumah tangganya adalah tempat di mana kesabaran diuji setiap jam. Lima anak, satu istri yang cerewet tapi baik hati, dan seekor kucing betina bernama “Wiwi” yang sering melahirkan di dalam laci sepatu semuanya menyumbang warna-warni kehidupan.

Setiap pagi, rumah itu seperti pasar tumpah. Bunyi alarm bertubi-tubi, suara panci jatuh, teriakan anak-anak rebutan kamar mandi, dan tentu saja, suara Bu Rina yang seperti narator utama:

“RENOOOO! Gigi kamu belum disikat tuh, napas kamu bisa ngerobohin tembok!”

“REHAAAAN! Kaus kaki kamu bukan jemuran nasional, jangan disebar di ruang tamu!”

“RONIIII! Kamu tuh ayah mereka, bukan patung! Liat tuh anak-anak kayak lomba tarik tambang!”

Pak Roni biasanya hanya duduk di pojok ruang makan, memegang cangkir kopi yang sudah dingin sejak subuh. Dia tidak bisa bicara terlalu banyak pagi-pagi, otaknya perlu waktu untuk “booting”.

“Rin, kamu bisa nggak sih… ngomong satu-satu aja. Aku belum bisa proses suara sebanyak ini dalam satu waktu,” keluhnya lembut sambil mengernyit.

“Ya kalau kamu gerak cepet, aku nggak perlu ngomong banyak!” jawab Bu Rina, lalu tertawa sendiri sambil membalik telur dadar.

Anak-anak mereka, semuanya punya karakter unik:

Reno, si sulung, hobinya main game dan mengaku punya “strategi hidup seperti catur”, padahal sering salah naik angkot.

Rehan, anak kedua, ilmuwan kecil rumah itu, pernah bikin eksperimen bikin sabun dari kulit pisang hasilnya, kamar mandi jadi medan perang lendir.

Rendi, anak ketiga, puitis dan melankolis. Sekali waktu, dia menulis puisi untuk ayam tetangga yang mati tertabrak motor.

Rio, nomor empat, adalah “versi mini Bu Rina” ngomong cepat, penuh komentar, dan punya opini tentang segalanya, bahkan tentang rasa sambal.

Rani, si bungsu dan satu-satunya perempuan, kecil-kecil tapi punya otoritas setara jenderal bintang tiga. Kalau dia bilang “stop!”, kakak-kakaknya langsung patuh.

Pernah suatu hari Minggu yang seharusnya tenang, Pak Roni memutuskan memperbaiki genteng bocor. Baru naik lima anak tangga, teriakan Bu Rina sudah menyusul dari bawah:

“RONI! Pelan-pelan dong, kamu tuh bukan Spiderman! Itu tangga sudah aus!”

“Ya ini juga baru nginjek, Rin…”

“Pokoknya kalau jatuh, kamu tanggung sendiri, aku udah bilang!”

Pak Roni hanya mendesah pelan. Tapi dia memang bukan tukang. Tiga menit kemudian, genteng yang diinjaknya retak, lalu

“BRUKKK!”

Pak Roni tergelincir, tidak jatuh sepenuhnya, tapi masuk ke sela-sela genteng dan menggantung seperti ayam goreng di etalase.

Anak-anak berlarian keluar sambil tertawa, Rio langsung teriak, “Itu ayah atau burung bangau?”
Bu Rina panik, tapi tetap cerewet, “Tuh kan! Udah dibilangin! Kamu tuh keras kepala banget sih, Pak!”
“Tolong aku dulu dong, jangan ceramahi dulu…” rintih Pak Roni dari atas.

Malam hari biasanya lebih damai. Anak-anak sudah di kamar masing-masing, sebagian tertidur, sebagian pura-pura tidur sambil main HP.

Bu Rina dan Pak Roni duduk di ruang tengah, nonton sinetron sambil ngemil tahu isi. Kadang mereka berdebat soal plot drama:

“Kamu tuh percaya aja, masa tokohnya hilang ingatan tiga kali dalam satu musim?” celetuk Pak Roni.

“Ya namanya juga drama. Kamu tuh nonton sinetron tapi logikanya kayak nonton berita investigasi,” balas Bu Rina.

Meski begitu, mereka selalu nonton bareng, dan tertawa bersama.

Suatu malam listrik padam. Anak-anak ribut, tapi Rani mengambil lilin dan berkata:

“Kita bikin acara keluarga! Cerita seram!”

Pak Roni mencoba jadi pembuka cerita, tapi baru tiga kalimat, Rio sudah interupsi: “Ayah, itu bukan cerita seram, itu kejadian waktu kita tersesat di pasar minggu lalu!”

Yang lainnya tertawa. Lalu Bu Rina ambil alih, bercerita tentang masa mudanya, tentang betapa cerewetnya dia dulu saat masih pacaran dengan Pak Roni.

“Eh, dulu ayah kamu tuh pernah ngajak aku jalan naik sepeda, terus bannya kempes, dia dorong sepedanya 4 kilometer. Tapi mukanya tetap tenang, padahal dalam hati dia panik!”

Pak Roni tersenyum. “Waktu itu aku bingung, antara dorong sepeda atau dorong kamu ke rumah dulu. Tapi akhirnya aku dorong sepeda, karena kamu ngotot nggak mau tinggal.”

Anak-anak tertawa. Bahkan Wiwi si kucing pun tampak senang duduk di dekat lilin.
Begitulah rumah tangga Pak Roni dan Bu Rina. Tidak mewah. Tidak sempurna. Tapi selalu ramai. Ramai dengan tawa, ocehan, keluhan, dan cinta.

Pak Roni memang bukan suami romantis, tapi dia setia. Dia sering bingung, pelupa, dan lambat tanggap, tapi tidak pernah lelah mencintai.

Bu Rina cerewet, suaranya bisa menggetarkan jemuran, tapi setiap ucapannya lahir dari kasih. Dia cerewet bukan karena benci, tapi karena peduli.

Dan anak-anak mereka tumbuh dalam lingkungan yang penuh warna penuh tawa, penuh omelan, tapi juga penuh pelukan.

Suatu malam, saat semua sudah tidur, Pak Roni menatap langit-langit sambil bergumam pelan, “Ya Allah, aku ini bukan bapak terbaik, tapi tolong jagain keluargaku ini… mereka satu-satunya harta yang kupunya.”

Dari dapur, Bu Rina menjawab, “Aamiin, Pak. Aku dengar, loh!”

Pak Roni tersenyum. “Ya kalau kamu denger, jangan ganggu suasana haru ini dong…”
Dan malam itu kembali sunyi. Di rumah kecil penuh cinta, tempat di mana suara keras, kebingungan, dan cinta menyatu menjadi satu: keluarga.

Penulis: Juju Juwita
Editor: Fathnan

POST TERKAIT